Kiamat Internet dari Dasar Laut

Ilustrasi kabel bawah laut.
Sumber :
  • Getty Images

Jakarta, VIVA – Jepang, Korea Selatan (Korsel), dan Taiwan terkoneksi ke Amerika Serikat (AS) melalui kabel data besar yang membentang di bawah perairan Pasifik.

img_title China Pangkas Insentif Mobil Listrik

Namun, tensi antara China dan AS berpotensi membahayakan 'tol laut' tersebut. Kabel bawah laut adalah tulang punggung globalisasi di era internet. Kabel ini membentang di lautan untuk menghubungkan negara-negara dan benua di seantero dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada 2021, penelitian dari Total Telecom menyebut setidaknya ada hampir 500 kabel yang membentang dengan panjang keseluruhan mencapai sekitar 1,3 juta kilometer.

img_title Bahlil Janji Realisasikan Kerja Sama Energi RI-Rusia hingga Manfaatnya Dirasakan Masyarakat

Jumlah itu terus bertambah. “Semua pertukaran data di dunia terhubung dari kabel-kabel bawah laut ini,” kata Johannes Peters, kepala Center for Maritime Strategy and Security di Christian Albrechts Univerity, Kiel, seperti dikutip dari situs DW, Rabu, 3 Desember 2025.

Menurutnya, internet, pembayaran online, berbagai informasi yang dipikirkan, hingga berbagai jenis komunikasi digital verbal, semuanya terhubung secara eksklusif di kabel bawah laut. "Kita bergantung dalam konteks global. Kini, jaringan komunikasi itu kian dipandang sebagai target sabotase," jelasnya.

img_title Janji Telkomsel usai Putusan MK soal Sisa Kuota Internet

Sinyal bahaya terendus dari berbagai insiden yang terjadi di perairan Baltik. Studi dari Washington University, Seattle menuturkan bahwa ada 10 kabel yang dipotong sejak 2022. Tujuh di antaranya dipotong dalam rentang waktu November 2024-Januari 2025. Itu di luar penambahan kasus yang dilaporkan pada musim panas ini.

Bila dilihat dari pergerakan kapal dan jangkar, Rusia dituding sebagai terduga pelaku pemotongan kabel. Namun, klaim ini belum terbukti. Di samping klaim bahwa kabel bawah laut yang sengaja dirusak, ada pula kemungkinan bahwa kabel tersebut rusak akibat kelalaian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

China juga dicurigai merusak sebagian kabel data di perairan Baltik. Khususnya di area dekat Taiwan. Bahkan, pada November 2025, Swedia secara tegas mendesak China untuk bertanggung jawab terkait insiden tersebut.

Negara-negara di Asia juga rentan mengalami kerusakan kabel bawah laut. Sekutu AS, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan terkoneksi dengan AS lewat kabel bawah laut yang membentang di perairan Pasifik. Para pemimpin dari negara-negara tersebut mengkhawatirkan nasib kabel bawah laut ini bila suatu hari terjadi konflik dengan China.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut