Bongkar Desain 'Made in' AI Lewat Tatapan Mata

Kecerdasan buatan (AI).
Sumber :
  • Pixabay

Jakarta, VIVA - Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mentransformasi dan mengubah lanskap industri di Indonesia. Teknologi ini mampu menciptakan peluang baru, tetapi juga tantangan yang kompleks.

img_title Ini Agenda Besar Indonesia dan China 2027-2031

Kendati AI berkembang pesat dan memudahkan pembuatan desain serta pemecahan masalah teknis, namun teknologi ini belum bisa menggantikan sepenuhnya kemampuan manusia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kemampuan manusia dalam menerjemahkan emosi, pengaruh budaya, dan pengalaman individu yang unik adalah jiwa seni yang tidak bisa ditandingi oleh algoritma," ungkap Arsitek Senior dan Pendiri PT Arya Cipta Garaha, Cosmas Gozali, di Jakarta, Kamis malam, 30 April 2026.

img_title AI Sekarang bisa Meretas dalam 31 Detik Tanpa Bantuan Manusia

Ia juga menekankan kepada seniman muda untuk menemukan dan menumbuhkan keindahan hati dan jiwa. Menjadi seorang arsitek bagi pria berusia 60 tahun ini adalah ketika merancang sebuah bangunan, sebaiknya sederhana dari luar, tetapi dari dalam memancarkan keindahan hati dan jiwa.

"Saya ingin setiap keindahan karya sebaiknya muncul dari dalam hati. Makanya, karya-karya arsitek yang mampu menghasilkan desain unik adalah yang memiliki 'jiwa', emosi. Bukan sekadar hasil replikasi mesin," tuturnya.

img_title AI Search Jadi Titik Baru Perebutan Perhatian Konsumen Indonesia

Cosmas Gozali merupakan salah satu dewan juri dalam ajang Daikin Designer Award atau DDA 2026. Kompetisi tersebut diikuti oleh peserta dari empat negara di ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina, serta tidak hanya diikuti oleh kalangan profesional, tapi terbuka bagi peserta mahasiswa.

Ia mengingatkan seluruh peserta agar tidak menggunakan tools AI dalam membuat desain karena jika terbukti maka dipastikan tidak lolos seleksi.

Lantas, bagaimana dirinya mengetahui kalau desain peserta buatan AI atau tidak?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Wawancara langsung. Dari situ kita bisa melihat gesture, tatapan mata peserta, apakah menjiwai karyanya atau tidak. Kalau menjiwai maka akan terjadi proses berfikir dan bisa menjelaskan karyanya dengan detail, yang mungkin, di mata juri tidak terlihat. Beda jika menggunakan teknologi (AI), pasti tidak menguasai," tegasnya.

Setiap kategori peserta yang ikut DDA 2026 memiliki kesempatan berlaga berdasarkan aplikasi bangunan, yaitu bangunan hunian dan bangunan komersial F&B. Tak hanya terbatas bagi karya terbangun, namun juga meliputi rancangan konseptual desain arsitektur maupun desain interior.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut