Data Pribadi Kini Lebih Berharga daripada Uang

Ilustrasi uang
Sumber :
  • VIVA Banyuwangi

VIVA – Di era digital, dompet yang hilang memang bisa diganti. Namun, ketika data pribadi bocor, kerugiannya bisa berlangsung bertahun-tahun. Mulai dari pencurian identitas, pembobolan rekening, hingga penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI), semuanya berawal dari informasi pribadi yang jatuh ke tangan yang salah.

img_title Eks Karyawan Vilmei Akui Dapat Rp600 Juta, Uangnya Dipakai Bayar Kos hingga Beli Kosmetik

Ilustrasi data pribadi.

Photo :
  • Instagram/@accumepartners

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak heran jika banyak pakar keamanan siber kini menilai bahwa data pribadi telah menjadi aset yang nilainya melebihi uang tunai. Bagi perusahaan teknologi, lembaga keuangan, hingga pelaku kejahatan siber, data pribadi memiliki nilai ekonomi yang terus meningkat karena dapat digunakan untuk memahami, memprediksi, bahkan memengaruhi perilaku seseorang.

img_title Polisi Sita Sisa Uang Rp11,5 Juta dari Rekening Karyawan yang Gelapkan Saldo TikTok Vilmei

Mengapa Data Pribadi Sangat Berharga?

Berbeda dengan uang yang nilainya tetap, data pribadi dapat digunakan berulang kali tanpa menghilangkan kepemilikannya. Informasi seperti nama, nomor telepon, alamat, lokasi, riwayat pencarian, kebiasaan belanja, hingga preferensi media sosial dapat dikombinasikan menjadi profil digital yang sangat rinci.

img_title Geger! Gus Alex Ungkap Beri 24 Anggota Panja DPR 1.500 Riyal Per Orang karena Diminta Uang Oleh-oleh

Menurut World Economic Forum (WEF), dikutip VIVA Jum'at, 26 Juni 2026, nilai sebenarnya dari data tidak terletak pada satu informasi saja, melainkan pada kemampuan menggabungkan ribuan potongan data menjadi wawasan yang dapat dimanfaatkan untuk bisnis, pemasaran, maupun pengembangan teknologi AI.

Karena itu, perusahaan digital rela menginvestasikan miliaran dolar untuk mengumpulkan dan mengolah data pengguna.

Bahan Bakar Ekonomi Digital

Selama bertahun-tahun, para ekonom menyebut minyak sebagai sumber daya paling berharga di dunia. Kini, banyak analis berpendapat bahwa posisi tersebut telah digantikan oleh data.

Data menjadi fondasi berbagai layanan digital, mulai dari mesin pencari, media sosial, layanan streaming, toko online, hingga aplikasi navigasi. Semakin lengkap data yang dimiliki perusahaan, semakin akurat mereka dapat menampilkan iklan, memberikan rekomendasi produk, atau melatih model kecerdasan buatan.

Bahkan, The Economist pernah menyebut data sebagai "minyak baru" (the new oil), sebuah pandangan yang juga dibahas oleh World Economic Forum dalam sejumlah publikasinya mengenai ekonomi digital.

Kebocoran Data Bisa Lebih Merugikan daripada Kehilangan Uang

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ilustrasi kebocoran data.

Photo :
  • Pixabay/blickpixel

Jika uang di dompet hilang, jumlah kerugiannya biasanya terbatas. Sebaliknya, ketika data pribadi bocor, dampaknya bisa jauh lebih luas. Penjahat siber dapat menggunakan informasi tersebut untuk:

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut