Beban Berat CEO Apple John Ternus
- iGeeksBlog
VIVA - John Ternus memiliki tanggung jawab besar yang harus dipikul usai dirinya resmi menggantikan Tim Cook sebagai CEO Apple pada 1 September 2026.
Harga saham Apple telah meningkat lebih dari 2.000 persen sejak Cook mengambil alih pada 2011 dan perusahaan telah menjual lebih dari 3,1 miliar iPhone selama periode tersebut.
Nah, Ternus menghadapi berbagai tantangan di Apple, tetapi kemampuannya untuk mempertahankan posisi puncak perusahaan akan bergantung pada bagaimana ia membentuk kembali strategi kecerdasan buatan (AI).
Apple kesulitan untuk berhasil mengadopsi teknologi tersebut sejauh ini, dan para kritikus mengatakan bahwa perusahaan tersebut jauh tertinggal dari para pesaingnya.
Mengutip situs DW, Jumat, 4 September 2026, John Ternus akan melakukan debut publiknya sebagai CEO pada acara peluncuran produk musim gugur Apple pada 9 September mendatang.
Acara ini diharapkan akan mengumumkan iPhone lipat pertama serta versi baru Siri yang didukung AI, asisten virtual Apple.
Wakil Presiden Bidang Data dan Analitik IDC, Francisco Jeronimo, mengatakan bahwa pengumuman Apple yang akan datang telah direncanakan selama masa kepemimpinan Tim Cook dan bahwa arah yang ingin diambil Ternus untuk perusahaan baru akan terlihat jelas pada 2027.
"Tentu saja, tanggal 9 September besok akan menjadi tonggak penting bagi perusahaan terkait perangkat lipat dan inovasi. Namun saya rasa kita belum melihat apa pun yang dapat mengindikasikan bahwa Apple bertindak berbeda atau menunjukkan strategi yang berbeda karena Tim Cook sudah tidak menjabat lagi — setidaknya belum," jelasnya.
Yang akan dicermati para pengamat bisnis dan teknologi dari John Ternus pada 9 September adalah sejauh mana ia memfokuskan pernyataannya pada AI.
Meskipun sudah tak terbantahkan ketika diumumkan pada April 2026 bahwa ledakan kecerdasan buatan akan menjadi kunci penting selama masa kepemimpinannya.
"Semakin jelas bahwa AI bukanlah tren sesaat, bukan sesuatu yang akan hilang dalam dua atau tiga tahun ke depan. Ini adalah sesuatu yang akan menentukan masa depan sebagian besar perusahaan teknologi dan bahkan semua perusahaan," ungkapnya.
Ia berpendapat bahwa AI bisa menjadi "teknologi paling penting" bagi Apple karena dapat membantu perusahaan mempertahankan posisinya yang tinggi atau justru menciptakan serangkaian tantangan yang menakutkan.
Tantangan terbesar yang ia lihat adalah Apple tidak "mengendalikan" infrastruktur AI seperti yang dapat dilakukannya sebelumnya dalam hal mendesain dan mengendalikan perangkat keras dan perangkat lunak untuk produk-produk utamanya.
"Mungkin itulah yang akan dilakukan John Ternus secara berbeda dari Tim Cook, karena saat ini, meskipun Apple membangun teknologi AI mereka sendiri, kenyataannya mereka masih bergantung pada orang lain," tutur dia.
Ketergantungan Apple pada perusahaan lain di bidang AI telah membawanya ke wilayah yang tidak dikenal. Mereka mencapai kesepakatan dengan OpenAI pada 2024 untuk mengintegrasikan ChatGPT ke dalam iPhone, tetapi hal itu telah menyebabkan perselisihan sengit antara kedua perusahaan.
Apple menggugat OpenAI awal tahun ini, dengan tuduhan bahwa perusahaan AI tersebut mencuri rahasia dagangnya. Awal tahun ini, Apple mengumumkan kesepakatan dengan Google, di mana model Gemini milik raksasa pencarian tersebut akan digunakan untuk model AI milik Apple dan versi Siri yang didukung AI terbaru.
"Risiko bagi Apple adalah menjadi kurang relevan di dunia di mana perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic  memimpin dalam hal teknologi, kesadaran merek, layanan, dan berpotensi juga dalam hal perangkat keras," kata Jeronimo.
Selama beberapa dekade, kesuksesan Apple dibangun di atas produk fisiknya, mulai dari iPad hingga iPhone. "Jika perangkat dari OpenAI tersedia, itu bisa sangat, sangat berisiko bagi Apple. Mereka bisa sepenuhnya mengganggu pengalaman dan cara kita berinteraksi dengan teknologi. Dan jika Apple tidak berada di garis depan inovasi tersebut, itu adalah risiko besar," paparnya.