Waspada Omicron BA.2 Ada di Indonesia, Apa Gejalanya?

Ilustrasi COVID-19/virus corona
Ilustrasi COVID-19/virus corona
Sumber :
  • Freepik

VIVA – Saat masyarakat antusias menyambut transisi pandemi menjadi endemi, varian COVID-19 terbaru kembali ditemukan di Tanah Air. Setelah Omicron, kini muncul varian yang dijuluki 'siluman' yakni BA.2 sudah meluas di Indonesia hingga ribuan kasus. 

Sesditjen Kesehatan Masyarakat dan Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi menyampaikan bahwa data mencatat sub varian BA.2 terbukti jauh lebih menular dibanding varian lainnya. Namun, butuh penelitian lebih lanjut agar mengetahui tingkat fatalitas varian siluman itu.

"Memang dikatakan BA.2 ini penularannya jauh lebih tinggi. Tetapi kalau kita bicara mengenai tingkat keparahan, belum ada data yang cukup mengenai hal ini maupun juga imunitas apakah lebih berat daripada BA.1 ataupun BA.1.1," kata dokter Nadia dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan RI mengenai Perkembangan COVID-19 di Indonesia, Selasa 15 Maret 2022.

Ilustrasi COVID-19/virus corona.

Ilustrasi COVID-19/virus corona.

Photo :
  • Pixabay/mattthewafflecat

Hal serupa juga diperlukan untuk memantau efektivitas vaksin pada sub varian Omicron tersebut. Nadia menyebut, saat ini data yang diperlukan masih sangat minim.

"Ini masih diperlukan banyak data untuk memastikan apakah betul semakin menurunkan efikasi daripada vaksin pada varian BA.2 ini," tambah Nadia.

Di sejumlah negara, lanjut Nadia, sub varian BA.2 tersebut mulai terdeteksi dan dinilai berperan untuk peningkatan kasus COVID-19. Hal itu terjadi di Korea Selatan, Hong Kong, dan Inggris. Lantas, apa gejala khas dari sub varian BA.2 ini?

"Untuk gejala klinis tidak ada yang berbeda. Kita lihat gejala BA.2 maupun BA.1 itu sama, jadi memang cenderung seperti flu biasa (berupa) sakit tenggorokan, batuk, pilek, dan dirasakan badan terasa pegal-pegal," terang dokter Nadia.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut bahwa sub varian BA.2 sudah terdeteksi di Indonesia sejak dua bulan terakhir. Hal itu dideteksi melalui Whole Genome Sequencing.

"Sub varian ini juga sudah ada di Indonesia. Dan hasil final genome sequencing kita yang terakhir dalam dua bulan lebih sudah 8.032 genome sequencing, di akhir-akhir porsi BA.2 ini sudah dominan di Indonesia," kata Menkes Budi dalam konferensi pers di YouTube Sekretariat Presiden, Senin 14 Maret 2022.

Di kesempatan berbeda, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan tren kasus COVID-19 memang sudah menurun. Namun, Prof Wiku mengingatkan, bahwa perbaikan kondisi bukan alasan untuk lengah. Terlebih, dalam masa adaptasi seperti saat ini, setiap individu memiliki tanggungjawab lebih dalam memproteksi diri. 

"Ingat, turunnya kasus tidak sama dengan hilangnya virus COVID dari Indonesia. Untuk itu, setiap kita masih memiliki tanggung jawab untuk melindungi diri kita sendiri dan orang lain, termasuk kelompok rentan," Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Selasa 15 Maret 2022, yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Lebih jelasnya, perkembangan terkini menunjukkan penurunan kasus positif mingguan sebesar 64 persen dari puncak tertinggi pada Februari lalu. Kasus kematian juga turun sebesar 10 persendari puncak lalu. Sejalan itu, kasus aktif juga turun dari 470 ribu kasus (89,11 persen) di minggu lalu, menjadi 340 ribu kasus (5,82 persen) di minggu ini. Turunnya kasus aktif ini, menambahkan kesembuhan yang di minggu ini angkanya 270 ribu orang dengan persentase meningkat hingga 91,6 persen.

Penurunan kasus aktif dan peningkatan kesembuhan berdampak menurunkan BOR nasional. Jika per 6 Maret 2022 keterisiannya hampir 30 persen, saat ini angkanya telah turun dan per 13 Maret 2022 hanya sekitar 20 persen keterpakaian. "Tentunya keberhasilan Indonesia ini hanya dapat tercapai berkat upaya keras masyarakat yang tertib menerapkan kebijakan pengendalian yang telah dirumuskan Pemerintah," lanjut Wiku.