Merasa Pendek? Ini 6 Cara Menambah Tinggi Badan Secara Sehat
- U-Report
Berikut adalah jumlah waktu tidur yang ideal berdasarkan usia:
- Bayi 0–3 bulan: 14–17 jam
- Bayi 3–11 bulan: 12–17 jam
- Balita 1–2 tahun: 11–14 jam
- Balita 3–5 tahun: 10–13 jam
- Anak 6–13 tahun: 9–11 jam
- Remaja 14–17 tahun: 8–10 jam
- Orang dewasa 18–64 tahun: 7–9 jam
4. Konsumsi makanan bergizi seimbang
Selama masa pertumbuhan, sangat penting untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh, agar pertumbuhan tinggi badan bisa maksimal. Pada anak-anak, asupan nutrisi yang tercukupi juga berperan penting untuk mencegah stunting.
Untuk menunjang pertumbuhan tinggi badan dan menjaga kepadatan tulang, anak-anak dan remaja perlu mengonsumsi makanan yang kaya akan beragam nutrisi, seperti protein, kalsium, dan vitamin D.
Asupan nutrisi tersebut bisa diperoleh dari buah dan sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, seafood, telur, tahu tempe, serta susu dan olahannya, termasuk yoghurt dan keju.
Pada beberapa kasus, misalnya gangguan pada hormon pertumbuhan atau malnutrisi, penggunaan suplemen tambahan mungkin akan disarankan untuk menambah tinggi badan. Namun, konsumsi suplemen ini sebaiknya disesuaikan dengan anjuran dokter.
5.Terapi hormon
Selain itu, untuk mengatasi masalah pada hormon pertumbuhan, dokter juga bisa memberikan terapi hormon. Terapi hormon pertumbuhan merupakan terapi jangka panjang yang dapat berlangsung beberapa tahun. Terapi ini umumnya diberikan melalui suntikan.
Dokter akan menentukan dosis dan berapa lama terapi hormon pertumbuhan diberikan, serta memantau respons anak terhadap terapi dengan pemantauan berkala. Saat anak menjalani terapi hormon pertumbuhan, dokter dapat mengubah dosis terapi sesuai kebutuhan anak.
Terapi hormon pertumbuhan ini dapat menambah tinggi badan anak akibat kekurangan hormon pertumbuhan hingga kurang lebih 10 cm pada tahun pertama dan 7,5 cm pada tahun selanjutnya.
Selain untuk kekurangan hormon pertumbuhan, terapi ini juga dapat membantu anak yang memiliki tubuh pendek karena kondisi lain, seperti terlahir prematur, penyakit ginjal kronis, sindrom Turner, dan sindrom Prader-Willi.
Perlu diketahui, pemberian hormon pertumbuhan pada anak memiliki beberapa efek samping, seperti:
- Sakit kepala.
- Nyeri otot dan sendi.
- Nyeri dan pembengkakan di lokasi penyuntikan.
Selain memiliki efek samping, pemberian hormon pertumbuhan pada anak juga bisa menimbulkan komplikasi berupa gangguan bentuk tulang belakang (skoliosis), masalah pada tulang panggul, seperti dislokasi atau patah tulang, dan diabetes. Namun, hal ini jarang terjadi.