Terungkap, Diet Intermitten Fasting 16:8 Ternyata Bisa Cegah Kanker

Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Prof. Dr.dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP
Sumber :
  • VIVA.co.id/Isra Berlian

VIVA – Intermitten Fasting (IF) 16:8 belakangan sering dijadikan sebagai salah satu cara untuk membantu menurunkan berat badan. IF 16:8 ini berkaitan dengan metode diet yang membagi waktu menjadi 16 jam berpuasa dan 8 jam makan.

img_title Biar Hasilnya Bertahan Lama, Ini Cara Mempertahankan Berat Badan Setelah Diet

Selama 16 jam berpuasa tersebut, masyarakat tidak boleh memasukkan apa pun ke dalam tubuh namun masih bisa untuk mengonsumsi air putih. Yuk lanjut scroll artikel selengkapnya berikut ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menariknya bukan hanya dapat menurunkan berat badan, IF 16:8 juga ternyata bisa mencegah terjadinya kanker. Hal tersebut diungkap oleh Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP.

img_title Diet di Usia 50 Tahun Tak Boleh Sembarangan, Ini 10 Cara Aman Turunkan Berat Badan

Ilustrasi Diet Intermittent Fasting

Photo :
  • www.freepik.com/free-photo

“Justru untuk mencegah. Untuk mencegah apa? Mencegah kanker,” kata Prof Aru Wisaksono dalam acara World Cancer Day 2025 ‘Kanker Tidak Menunggu, Kenapa Kita Menunggu? Deteksi Dini, Selamatkan Hidup’ di Sahid Jakarta Pusat, Rabu 19 Februari 2025.

img_title Kulit Mengendur Setelah Diet? Kenali Cara untuk Membentuk Kontur Tubuh

Lebih lanjut dijelaskan Prof Aru bahwa korelasi IF 16:8 dengan pencegahan kanker sendiri berkaitan dengan asupan dalam tubuh. Selama puasa 16 jam yang dijalani, tubuh akan mencari energi yang diharapkan bisa berasal dari sel-sel kanker dalam tubuh. 

“Kalau kamu itu tidak makan selama 16 jam ya, tapi minum air putih ya, itu badan kamu nanti akan kebingungan mencari energi. Jadi dia ngambil sel-sel yang enggak ada gunanya dalam tubuh, sel-sel yang beracun, sel-sel yang toksik, antara lain kita harapkan sel-sel kanker yang baru mau mulai, dia dimakan sama tubuh, untuk bahan energi. Jadi dia mencari ini, enggak ada makanan. Terus sudah, sudah mengerjakan,” kata dia menjelaskan.

Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Prof. Dr.dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP

Photo :
  • VIVA.co.id/Isra Berlian

Sementara itu, untuk memaksimalkan IF 16:8 dalam mencegah risiko kanker, penting juga mengatur asupan makanan di 8 jam lainnya. Dijelaskan prof. Aru untuk pola makan bisa mengonsumsi makanan apapun selain ultra-processed food.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ultra-processed food adalah makanan yang sudah diproses secara industri dan mengandung banyak zat tambahan. Makanan ini biasanya dirancang untuk praktis, tahan lama, dan siap saji. 

Beberapa jenis makanan ultra-processed food itu termasuk mi, produk daging olahan seperti ham, sosis, bakso, nugget. Keripik kentang, biskuit, sereal sarapan,hingga minuman kemasan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut