Waspada Grooming, Kejahatan Seksual pada Anak dan Remaja
- Pixabay
VIVA – Modus pelecehan seksual pada anak kian beragam. Karenanya, sebagai orangtua Anda harus waspada. Kini, kejahatan seksual anak yang banyak terjadi adalah grooming.
Mirisnya, banyak orangtua tidak menyadari karena pelaku grooming sangat lihai dalam membangun kepercayaan dengan orangtua dan anak. Pelaku pun bisa membuat sebuah hubungan yang dekat dengan anak maupun orangtuanya. Metode ini dilakukan agar pelaku leluasa menjalankan kejahatannya.
Menurut laman americanbar.org, dalam kasus ekstrem, pelaku grooming dapat menggunakan ancaman dan kekerasan fisik untuk melakukan penyerangan seksual atau pelecehan terhadap anak. Namun, yang lebih umum adalah pendekatan halus yang dirancang untuk membangun hubungan dengan keluarga.
Dalam kasus grooming, pelaku dapat mengambil peran pengasuhan, berteman dengan anak atau bahkan mengeksploitasi posisi kepercayaan dan otoritas mereka untuk merawat anak atau keluarga anak. Orang-orang ini sengaja membangun hubungan dengan orang dewasa di sekitar anak atau mencari anak yang kurang diawasi oleh orang dewasa dalam hidupnya. Hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa waktu pelaku dengan anak akan direspons dan diterima.
Dilansir dari laman rainn.org, grooming dapat dilakukan secara online atau langsung. Meskipun ada banyak bentuk grooming, sering kali pelaku mengikuti pola yang sama. Berikut ini yang perlu diketahui mengenai grooming.
1. Pemilihan korban
Pelaku grooming, sering mengamati kemungkinan korban dan memilih mereka berdasarkan kemudahan akses atau kerentanan yang mereka rasakan.
2. Mendapatkan akses dan mengisolasi korban
Pelaku grooming akan berusaha memisahkan korban secara fisik atau emosional dari orang-orang yang melindungi mereka dan sering mencari posisi di mana mereka berhubungan dengan anak di bawah umur.
3. Pengembangan kepercayaan dan menjaga rahasia
Pelaku grooming berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari calon korban melalui hadiah, perhatian, berbagi "rahasia" dan cara lain untuk membuat mereka merasa bahwa pelaku memiliki hubungan yang peduli dan melatih mereka untuk menjaga rahasia hubungan.
4. Cara pelaku membuai korban
Pelaku grooming akan sering mulai aksi mereka dengan menyentuh korban dengan cara yang tampak tidak berbahaya, seperti berpelukan, bergulat dan menggelitik, dan kemudian meningkat menjadi kontak seksual yang semakin meningkat, seperti pijat atau mandi bersama. Pelaku juga dapat menunjukkan pornografi korban atau mendiskusikan topik seksual dengan mereka, untuk memperkenalkan gagasan tentang kontak seksual.