Wapres: Stunting Rugikan Negara Hingga Rp450 Triliun

Ilustrasi anak/balita.
Ilustrasi anak/balita.
Sumber :
  • Freepik/rawpixel.com

VIVA – Stunting sudah seharusnya menjadi prioritas penanganan persoalan bangsa saat ini. Ancaman terhadap kualitas generasi penerus bangsa sudah pasti. Selain itu, stunting juga menimbulkan kerugian terhadap negara mencapai Rp450 triliun per tahun. 

Wakil Presiden Ma'ruf Amin dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional (BKKBN) Tahun 2022, mengungkapkan kerugian negara akibat stunting. 

"Sekitar 2-3 persen Produk Domestik Bruto (PDB) hilang per tahun akibat stunting. Dengan jumlah PDB Indonesia tahun 2020 sekitar Rp15.000 triliun, maka potensi kerugian akibat stunting mencapai Rp450 triliun per tahun," kata Ma'ruf, Selasa 22 Februari 2022. 

Lebih lanjut, Ma'ruf menegaskan permasalahan stunting harus ditangani secara serius karena stunting bukan hanya soal masalah gagal tumbuh secara fisik. Ia menyebutkan, stunting dapat mematikan masa depan seorang anak, bahkan sebelum tumbuh dewasa karena stunting juga mengindikasikan kemampuan kognitif anak. 

ilustrasi anak/pertumbuhan anak/tinggi anak/kakak adik.

ilustrasi anak/pertumbuhan anak/tinggi anak/kakak adik.

Photo :
  • Freepik/rawpixel.com

"Padahal, human capital sangat menentukan keberhasilan pembangunan. Bila nyaris 30 persen anak Indonesia stunting, artinya 30 persen kekuatan pembangunan Indonesia di masa depan terancam hilang," ujarnya. 

Oleh karena itu, Ma'ruf meminta dalam waktu dua tahun ke depan harus terlihat capaian-capaian yang konkret dan terukur dari upaya penurunan angka stunting. Ia mengingatkan, RPJMN 2020-2024 menargetkan prevalensi stunting turun ke angka 14 persen pada 2024, bahkan diharapkan nol pada 2030. 

Dokter Spesialis Anak dan Guru Besar FKUI, Prof. dr. Damayanti Rusli Sjarif, mengungkapkan dua hal yang menjadi penyebab umum stunting. Pertama, kurangnya asupan gizi. Penyebabnya pun beragam, kemiskinan atau anak yang ditelantarkan oleh orangtua. Bisa juga karena memang ketidaktahuan dari orangtua itu sendiri. 

"Tidak tahu kasih makan yang benar bagaimana. Karena banyak di sosial media, kasih makan anak bagaimana, namun berbasis bukti tidak ada yang tahu," tuturnya. 

Ilustrasi ibu dan anak/parenting.

Ilustrasi ibu dan anak/parenting.

Photo :
  • Freepik/lookstudio

Kedua menurut Prof. Damayanti, karena kebutuhan gizi yang terus meningkat. Anak yang sakit, misalnya. Walaupun berusaha mencukupi nutrisi, tapi gizi kurang, misalnya diare yang berulang karena sanitasi yang buruk. 

"Bisa pula karena penyakit infeksi yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi. Ditambah, banyak orang yang tidak tahu terkait dampak berat bayi rendah, prematur, pertumbuhan janin terlambat dan sebagainya," ungkapnya. 

Sebelumnya, Damayanti pada 2018, bekerja sama dengan psikologi UI melakukan penelitian mengenai stunting. Dari 52 balita stunting, sekitar 7,71 persen memiliki kondisi fisik dan kecerdasan di bawah rata-rata.