6 Cara Cegah Speech Delay Pada Balita, dan Penyebabnya
- Pixabay
4. Minum dengan sedotan
Anak kecil minum
- foxnews
Minum dengan sedotan dapat membantu menguatkan otot-otot mulut dalam mengatasi keterlambatan bicara akibat kemampuan oromotor yang belum siap. Gunakan sedotan yang bisa dipakai ulang (reusable) ramah lingkungan atau dengan dengan bentuk, motif, atau warna yang ia suka untuk menarik perhatiannya.
5. Konsultasi dengan dokter
Ilustrasi dokter periksa anak.
- U-Report
Apabila anak belum mengoceh atau tidak menoleh ketika namanya dipanggil saat usianya 6 bulan, atau belum berkata apa pun pada usia 1 tahun, maka Anda harus waspada. Nantinya, dokter akan mengevaluasi apa penyebab speech delay pada anak berikut penanganannya.?
6. Batasi gadget
Anak bermain HP atau gadget.
- Istimewa
Di era teknologi seperti sekarang ini, penggunaan gadget atau gawai yang berlebihan pada anak bisa menurunkan kemampuan bicaranya. Interaksi dengan orang lain, khususnya komunikasi dua arah, bisa menjadi stimulus untuk perkembangan bicara anak. Jika anak dibiarkan berlama-lama bermain gawai, maka ia dapat mengalami hambatan dalam bekerja bersama orang lain sekaligus menurunkan produktivitasnya dalam suatu lingkungan.
Oleh karena itu, orang tua bisa menerapkan screen time, yaitu batasan waktu di depan layar, misalnya main gawai, komputer, ataupun menonton tayangan tertentu.
Penyebab speech delay
Sebelum membahas cara mengatasi speech delay pada anak, Anda perlu tahu apa saja penyebab keterlambatan tersebut:
- Gangguan pendengaran, baik berupa infeksi telinga kronis maupun kelainan bawaan
- Gangguan oromotor (otot mulut)
- Kelainan anatomi mulut seperti bentuk lidah, sumbing pada langit-langit mulut, atau frenulum yang pendek (selaput yang menggantung di bawah lidah)
- Gangguan pada otak yang berperan dalam menerima atau menyampaikan bahasa
- Autisme
- Retardasi mental
- Kurangnya stimulasi selama periode emas termasuk
- Terlalu sering bermain gawai pada usia dini
Tanda-tanda speech delay
- Jika anak tidak mampu mengucapkan kata-kata sederhana saat berusia 12-15 bulan. Misalnya “mama” atau “papa”.
- Anak tidak bisa memahami kata sederhana saat berusia 18 bulan. Misalnya “jangan”, “tidak”, dan lain-lain.
- Anak tidak bisa berbicara dalam kalimat pendek (3-4 kata) saat berusia 3 tahun.
- Anak tidak mampu bercerita secara sederhana saat berusia 4-5 tahun.
Apabila anak menunjukkan tanda-tanda di atas, jangan diabaikan. Sebaiknya bawa anak menemui dokter spesialis anak supaya ia bisa memperoleh terapi yang ia butuhkan