Anak Susah Makan Jangan Dipaksa, Begini Cara Efektif Mengatasinya

Anak susah makan/picky eater.
Sumber :
  • unsplash

Jakarta, VIVA – Gangguan makan terhadap anak bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai dampak serius bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak, terlebih jika dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan yang tepat.

img_title Bergaji Rp9 Juta Sehari, Dwi Bagus yang Bunuh Istri Siri dan Anak di Madiun Punya Keahlian Langka

Masalah nafsu makan pada anak terjadi ketika anak mulai kehilangan minat untuk makan, hanya mau makanan tertentu hingga makan dalam jumlah sangat sedikit. Kondisi ini umum terjadi pada anak usia 1 hingga 5 tahun, namun bisa berlanjut hingga usia sekolah jika tidak ditangani dengan baik. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, anak yang mengalami kesulitan makan berisiko tinggi mengalami gizi kurang hingga gizi buruk, yang dapat berdampak langsung pada pertumbuhan fisik, perkembangan otak, hingga sistem kekebalan tubuh anak.

img_title Sudaryono Targetkan Tak Ada Lagi Insiden Keracunan MBG, Minta Aturan Penyajian Makanan Diperketat

Kasus anak susah makan tidak terbatas pada wilayah tertentu. Di Indonesia, baik di kota besar maupun di daerah, masalah ini dilaporkan oleh banyak orangtua, termasuk melalui posyandu dan layanan konsultasi dokter anak.

img_title Momen Prabowo Pimpin Siswa SD Bacakan Teks Sumpah Pemuda

Masalah ini paling sering dialami oleh anak-anak usia balita. Namun yang paling terdampak justru adalah para orangtua, khususnya ibu, yang harus mencari cara agar kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi.

Salah satu dampak paling serius dari anak yang susah makan adalah risiko stunting. Menurut data dari World Health Organization (WHO), stunting terjadi akibat kekurangan asupan gizi kronis dalam jangka waktu panjang.

Anak yang mengalami stunting cenderung memiliki tinggi badan yang lebih pendek dari rata-rata usianya dan berisiko mengalami penurunan fungsi kognitif. Selain itu, anak yang mengalami defisiensi nutrisi, juga lebih rentan terhadap gangguan perilaku, seperti mudah marah, cemas, dan kesulitan tidur.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Studi yang dimuat dalam jurnal Pediatrics tahun 2022 menyebutkan bahwa pola makan yang buruk berhubungan dengan risiko depresi dan gangguan perilaku di kemudian hari.

Jika anak menunjukkan penurunan nafsu makan lebih dari 1 minggu berturut-turut, berat badan mulai stagnan atau turun, dan anak tampak lemas atau kurang fokus, maka orangtua perlu segera mengambil tindakan dan berkonsultasi ke dokter.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut