- instagram.com/falconpictures_
17 Juli 2017 jadi hari di mana akhirnya Iqbaal Ramadhan eks Coboy Junior alias CJR diumumkan sebagai sosok pemeran Dilan. Namanya pun melesat cepat dalam pencarian teratas Google Indonesia. Menariknya, sebagian besar bernada sumbang, Iqbaal nyaris tanpa dukungan. Pro dan kontra memang, tapi banyak yang menolak percaya, Iqbaal mampu membawa ekspektasi pembaca.Â
Nyatanya tak demikian. Sejak tayang pada 25 Januari 2018, Iqbaal kini menjadi idola baru, bukan hanya di kalangan remaja, tapi juga ibu-ibu. Dia berhasil mematahkan ragu banyak pembaca buku. Film Dilan pun kian diburu. Di hari ke-21, Dilan 1990 sudah mengumpulkan penonton, 5.472.000, luar biasa, bukan?
![]()
Film adaptasi novel memang menarik, tapi proses pembuatannya mungkin agak pelik. Seperti Pidi Baiq, Fajar, dan Ody menggarap Dilan, ada diskusi alot di dapurnya. Dilan pun bukan satu-satunya film adaptasi yang sukses secara komersil dan popularitas. Tetapi tentu saja, tak selamanya juga film yang diadaptasi dari buku menguntungkan.
Fenomenal
Pengamat film dan penulis, Noorca Massardi mengatakan, film adaptasi novel di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak era 50' dan 60'an. Namun, film ini mulai jadi tren pada era 70'an. Di masa itu, banyak karya sastra legendaris yang sukses naik ke layar lebar.
"Saya rasa ramainya setelah 70'an, terutama (karya) Asrul Sani. Film-film sastra dari Asrul Sani, (misalnya) ada Di Bawah Lindungan Ka'bah," katanya kepada VIVA melalui sambungan telepon, Rabu, 14 Februari 2018.Â
Novel tersebut adalah karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal Hamka yang terbit pada tahun 1938 dan diangkat menjadi film oleh Asrul Sani pada tahun 1977 dengan judul Para Perintis Kemerdekaan. Film ini masuk dalam 6 nominasi Festival Film Indonesia pada tahun 1981, termasuk untuk kategori Film, Skenario, dan Penyutradaraan Terbaik. Dua piala pemenang pun akhirnya dibawa pulang.
Menurut Noorca, Asrul Sani merupakan sosok penulis dan filmmaker yang andal. Noorca menilai, film-film adaptasi yang dibuat Asrul sangat bagus, dengan skenario yang dianggap tidak menyimpang dari novelnya. "Dia tidak menyimpang dari novelnya, tapi filmnya itu justru sangat memperkuat karya sastranya," ujarnya menambahkan.