- Dok. PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta
"Kita juga mikirin, bukan cuma struktur stasiun, tapi yang di atas nih, di jalanannya bagaimana. fasilitas pedestriannya menunjang enggak? karena kan ekspektasi kita orang akan berjalan, atau turun di sekitar stasiun, berjalan masuk ke stasiun kita," tambahnya.
Sejak dimulai pada 2013, hingga 25 Februari 2018, secara keseluruhan proyek fisik MRT telah mencapai 91,86 persen. Terdiri dari 87,99 persen konstruksi eleveted dan 95,76 persen konstruksi underground.
Selain itu, untuk konstruksi stasiun sudah terlihat di Stasiun Sisingamangaraja yang memasuki tahap pemasangan rangka atap. Sehingga, saat rangka atap dipasang, bentuk dari stasiun layang sudah mulai terlihat.
Tak Canggung
Bekerja di bidang yang didominasi laki-laki, Silvia mengaku sebelumnya tak pernah berpikir akan berkarier di sektor konstruksi. Bahkan, tak terpikir sedikit pun bahwa konstruksi adalah pekerjaan laki-laki.
"Tidak pernah terbersit di kepala saya waktu saya mulai berkarier. Never in my mind saya merasa seperti itu. Jadi saat saya mulai kerja ga pernah terpikir ini pekerjaan cowok, jadi engga cocok buat saya. Ya saya buat simple engineering itu general," jelasnya.
Silvia menceritakan, selama bekerja di sektor konstruksi, dia tidak menemui ada pembedaan antara perempuan dan Laki-laki. Hanya saja ada beberapa kebijakan yang membuatnya harus mengakui bahwa sebuah kesenioran menjadi pertimbangan perusahaan.
Hal itu Silvia alami saat bekerja di Singapura. Walau bersama rekan sekerjanya memiliki performace yang sama-sama bagus, namun karena dia dipandang lebih senior maka mendapatkan promosi lebih dahulu.
Maka, dia memiliki sebuah keinginan yang harus tertular kepada seluruh perempuan di Indonesia. “Perempuan harus memiliki keunggulan dari laki-laki dengan terus bekerja keras,” ujarnya.
![]()
Direktur Konstruksi Silvia Halim (kiri) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (kanan) saat meninjau pedestrian di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Silvia menyadari ada beberapa perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menentukan sebuah kebijakan dan menyelesaikan sebuah permasalahan. Hal itu pernah dia temukan saat menyelesaikan pekerjaannya di Singapura.
Di sana, setiap keputusan yang diambil laki-laki dan perempuan berbeda dari kualitas outputnya. Salah satunya cara berkomunikasi. Gaya komunikasi dengan laki-laki lebih kepada perintah atasan yang harus diterapkan sesuai 1,2,3 dan seterusnya.