- ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho
Pemerintah malah mengakui pekerjaan sebagai pengayuh becak meningkat dan disejajarkan dengan profesi lain, seperti sopir, petani, dan pedagang. Para tauke juga meningkatkan penghasilan para penarik becak.
Berbagai bonus kerap diberikan para tauke. Salah satunya jika lebaran tiba, para tukang becak yang sudah lama bekerja dapat hadiah sebesar 15 kali setoran. Sementara para tukang becak baru dapat hadiah lebaran tiga sampai tujuh hari setoran.
Beberapa kali pula tarif becak direvisi para tauke yang terhimpun dalam Betjak Bond Jakarta. Kenaikan tarif disesuaikan dengan naiknya harga suku cadang becak.
Sebagai gambaran saat itu harga becak sekira Rp400. Tarifnya per jam untuk jarak 10 kilometer cuma Rp10. Ketika cuaca buruk, tarifnya dinaikkan menjadi Rp15 untuk jarak 10 kilometer. Tarif sewa becak ini digantung atau ditempel pada badan becak, sehingga mudah dilihat calon penumpang.
Jika pengemudi becak melanggar, maka akan dikenakan sanksi tak boleh menarik selama satu tahun dan didenda tinggi.
Dalam catatan sejarah, ada tiga tauke asal Betawi yang tersohor punya ratusan becak sewaan. Ketiganya adalah Haji Jau, Haji Rumani, dan Manggir di wilayah Tulodong. Sedangkan di wilayah Tebet, ada tauke becak terkenal bernama Haji Pakih.
Selain membeludaknya jumlah penarik becak pada 1950-an, bentuk dan hiasan becak juga bervariasi. Sandaran belakang becak dilukis, sadel dihias dengan rumbai-rumbai bulu ayam, di kiri dan kanan bagian depan ada hiasan yang bisa bergoyang-goyang, hingga penambahan aksesori bunyi-bunyian.
Musuh Pembangunan
Kejayaan becak mulai terusik pada awal 1960. Pengawasannya diperketat. Ada beberapa daerah yang mulai haram dilewati becak. Ruang gerak terus dibatasi karena laju pertumbuhan tak terkendali. Sejak itulah becak selalu dikaitkan sebagai musuh pembangunan.
Pada Desember 1962, wilayah Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, yang banyak terdapat kantor-kantor pemerintahan, termasuk daerah terlarang untuk becak. Becak makin dipersempit ruang geraknya seiring kebijakan Presiden Sukarno yang ingin mengubah wajah Jakarta dengan proyek-proyek raksasa dan modernisasi moda transportasi.
Moda transportasi yang disiapkan Sukarno kala itu adalah Bemo yang dipesan khusus dari Jepang sebagai kendaraan angkutan di Jakarta dalam kaitannya menyambut Ganefo, pekan olahraga akbar yang digadang-gadang menyaingi olimpiade.