- Dok. Revivaltv
Telkomsel, menurut Auliya, berupaya mewadahi komunitas games developers, publishers, dan gamers yang ada di Indonesia untuk saling berinteraksi dan berbagi informasi secara offline.
Andi Taru mungkin layak jadi sosok yang bisa menjadi contoh. Founder dari Educa Studio awalnya adalah seorang pencinta games. Namun berikutnya ia tertantang untuk membuat sendiri. Startup miliknya berambisi untuk mengembangkan bisnis aplikasi dan game kasual dan edukasi. Sejak September 2015, ia dan tim berekspansi dengan hadirnya Keong Games.
Menurut Andi, kalau dilihat dari marketnya, masa depan games sangat bagus dan menjanjikan secara finansial. Tapi, ujarnya mensyaratkan, sebaiknya tidak berkiprah asal-asalan. "Industri game ini lebih ke passion. Jadi bagaimana kita menjalani hobi yang kita sukai, terus dibayar. Tapi engga bisa sembarangan, karena tetap dibutuhkan skill yang tidak sembarangan," ujarnya.
Jika sudah cinta, kadang kita lupa memikirkan apa yang akan terjadi kemudian. Mungkin kiasan itu tepat untuk menggambarkan bagaimana kondisi para game player atau atlet e-sports saat ini. Mereka bermain game atas nama cinta dan ketertarikan luar biasa pada permainan yang mereka tekuni. Itu sebabnya pengorbanan waktu dan tenaga tak lagi mereka hitung. Soal bagaimana di masa depan, tetap dipikirkan sambil jalan.
Fadli yang saat ini memilih cuti kuliah, berjanji akan kembali melanjutkan kuliahnya. Begitu pula dengan Sebastian, Valdo, dan Justin. Mereka tetap ingin mengutamakan pendidikan, tapi sekarang mereka ingin konsentrasi penuh pada kemampuan dan kecintaan mereka bermain game.
Adu taktik, adu strategi, adu tangkas, lalu meraih kemenangan saat ini sepertinya jauh lebih menantang dibanding memikirkan apa yang akan mereka hadapi di masa depan. Semoga pemerintah cepat membaca perkembangan ini dan memberi mereka, juga puluhan ribu penggemar game lainnya di Indonesia, kesempatan besar untuk berkiprah.
Baca Juga