- VIVA/Muhamad Solihin
Menurut dia, perputaran uang di industri ini juga besar. Pasalnya, industri kreatif ini melibatkan pengembang aplikasi, dan monetisasi produk game. Selain itu, di ekosistem game ini terdapat bisnis lain yakni payment gateway. Jadi sisi ini bisa dimainkan untuk menambah nilai game Indonesia.
"Beberapa industri Indonesia fokus di situ. Dan itu jadi value change yang bagus," ujarnya menambahkan.
Sayangnya, pasar game di Indonesia banyak dikuasai oleh produk game asing. Industri game di Indonesia masih menjadi pasar alias konsumen belum menjadi produsen. Indonesia belum bisa bersaing dengan AS, Jepang dan Korea Selatan yang sudah menciptakan platform.
"Kita baru menguasai market di dalam negeri cuma 8-9 persen dari 100 persen, sisanya game luar. Game kita masih terbatas," ujar Wahyu.
Dia menuturkan, meski ekosistem game di Indonesia belum bisa seperti tiga negara di atas. Namun bukan berarti Indonesia tak punya visi dalam mengelola industri game lokal. Bekraf menilai, perkembangan industri game di Indonesia tak terlalu buruk. Menurut dia, dengan terus memperbesar pasar akan melahirkan dan memunculkan produsen game lokal.
"Target kita ke depan adalah bagaimana produk yang dihasilkan oleh para gammers bukan cuman hanya jadi pemain game. Tapi juga menciptakan game karena di situ nilai ekonominya yang sangat tinggi."
Jadi Tuan di Negeri Sendiri
Optimisme tersebut disambut pelaku game lokal. Wahyu mengatakan, pelaku game di Asosiasi Game Indonesia (AGI) saat ini sudah turun gurung mendorong agar produksi game lokal makin baik.
Kerisauan Bekraf atas dominasi game asing di industri lokal disadari oleh pengembang game, Agate Studio. Public Relations Manager Agate Studio, Vera Tan mengatakan, potensi dan bisnis game cukup menggiurkan di Indonesia meski perkembangnnya belum begitu sempurna.
Menurut dia, salah satu kendala untuk perkembangan game lokal adalah pemain asing. Pengembang game Indonesia masih berada di bawah China, Jepang, AS dan negara Eropa lainnya. "Pesaing kami dari luar negeri," ujarnya kepada VIVA.
![]()
Dengan dominasi pemain dari luar negeri, potensi besar game di Tanah Air otomatis lebih banyak dinikmati mereka. Advisor Keong Games, Andi Taru mengakui, perkembangan industri game tahun ini moncer. Namun di tengah gebyar tersebut ada tantangan, yakni gencarnya asing menguasai industri game di Indonesia. Dengan kondisi itu, pemain industri game lokal dituntut punya keunikan dan nilai lebih tersendiri.