- ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Bagaimanapun, untuk menghadirkan generasi terbaik, dibutuhkan pendidikan dan lingkungan yang baik pula. Para orangtua berpikir untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Pendidikan tak sekedar pendidikan umum saja, tapi ditambah pendidikan agama dan pendidikan karakter atau budi pekerti.
Itu pula yang mendorong menjamurnya sekolah-sekolah Islam berbasis karakter atau sering disebut Sekolah Islam Terpadu. Sekolah-sekolah ini umumnya mengintegrasikan pendidikan umum dengan pendidikan agama dalam semua materi pembelajarannya. Sistem sekolah dibuat fullday school, ada juga yang sistem boarding atau asrama.
Semuanya dibentuk sedemikian rupa, untuk menggabungkan aspek akhlak, prestasi, dan kemandirian siswa siswinya. Mereka diharapkan tidak hanya berprestasi di akademik, tapi juga punya dasar agama yang baik dan berakhlak mulia. Pengalaman itu setidaknya yang ingin dibagikan oleh Mindy, ibu muda berusia 29 tahun ini, yang memilih menyekolahkan anaknya di SDIT yang berada di kawasan Bekasi, Jawa Barat.
Bagi Mindy, SDIT dipilih ada kekhawatiran sebagai orangtua yang tak mampu memberikan pendidikan agama sebagai fondasi dalam membangun karakter dan spiritual anak di masa tumbuh kembangnya. Ia menyadari pembentukan karakter anak itu dominan dari pendidikan di rumah, namun keseharian dan rutinitas di lingkungan sekolah yang baik, juga dapat menstimulasi perkembangan spiritual anak.
"Saya ambil contoh rutinitas anak saya di sekolah: setiap pagi sebelum memulai aktifitas belajar dimulai dengan kegiatan salat Dhuha dan kegiatan belajar Alquran. Menurut saya, ini bentuk upaya menstimulasi spiritual anak," kata Mindy saat ditemui VIVA, Rabu, 23 Mei 2018.
"Dengan sekolah di SDIT harapan saya anak-anak bisa memiliki fondasi agama Islam yang baik dan benar, bukan berarti menuntut anak untuk menjadi manusia yang suci tanpa dosa ya, tapi mempersiapkan tuntunan hidup yang baik dan benar untuk masa depannya," imbuhnya.
![]()
Kesadaran akan pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak juga diakui Sari, seorang ibu berusia 35 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta. Ia mengakui minimnya waktu bersama anak, karena mesti bekerja, ditambah lagi tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup untuk mengajarkan ke anak-anaknya, menjadi alasan kenapa memilih menyekolahkan anaknya di SDIT di kawasan Grogol, Jakarta Barat.
"Karena kalau di sekolah umum agamanya lebih sedikit porsinya, untuk ngajarin mungkin saya perlu tambahan les, untuk iqro, dan lain-lain. Jadinya saya masukin ke sekolah agama," ujar Sari kepada VIVA, Kamis, 24 Mei 2018.
Sari mengakui, banyak perkembangan yang didapat anaknya di SDIT. Di samping anak diajarkan tata cara salat wajib dan sunah, akhlak yang baik kepada orang tua dan sesama, juga belajar mengaji dan hafalan Alquran. "Saya amazing juga sih, dia sudah hafal beberapa surat, bahkan saya enggak bisa," ujarnya.