- ANTARA FOTO/Kahfie Kamaru
VIVA – Belasan bocah berseragam olahraga berbaris di sebuah halaman di sisi kiri sebuah bangunan memanjang di Jalan Dukuh Kupang 37, Putat Jaya, Sawahan, Kota Surabaya, Jawa Timur, pada Jumat pagi, 23 November 2018. Di depan mereka, seorang pria berseragam olahraga hijau berdiri mengawasi. "Istirahat di tempaaat, grak!" Barisan kemudian bergerak sesuai instruksi pria tersebut.
Pria yang mengatur belasan bocah itu adalah Muhammad Saiful (46), warga Jombang, Jawa Timur. Ia adalah guru olahraga di SDN Putat Jaya II, Surabaya Barat. Saiful mengabdi di sekolah tersebut sejak tahun 1997 hingga sekarang.
"Saya di sini masih bangunan lama. Tiga tahun kemudian baru dibangun yang baru seperti sekarang ini," katanya ketika ditemui VIVA di sekolah dia mengajar pada Jumat pagi, 23 November 2018.Â
Sejak awal mengajar, lulusan IKIP PGRI Surabaya itu setiap hari wira-wiri Jombang-Surabaya. Cuma, beberapa tahun terakhir saja indekos di dekat tempatnya mengajar. Dia terpaksa wira-wiri karena istri dan satu anaknya yang masih kecil tinggal di Jombang.
"Saya sekarang ngekos paling dalam seminggu ditempati dua hari saja. Selebihnya pulang ke Jombang," ujarnya.
![]()
Guru Honorer menggelar aksi unjuk rasa di Kudus, Jawa Tengah
Saiful adalah satu di antara ratusan guru honorer kategori 2 atau K2 di Kota Surabaya. Pendapatan dari menjadi guru diperoleh Saiful hanya dari honor dengan besaran setara UMK, saat ini lebih dari Rp3,5 juta. Tidak ada tunjangan atau insentif lainnya. Saiful mengaku beberapa kali ikut tes calon pegawai negeri sipil atau CPNS. Namun, hingga sekarang belum juga berhasil.
"Pertama ikut tes CPNS tahun 2001 di Kediri. Kalau yang lewat K2 tahun 2013. Tetap enggak lolos," ucapnya.
Tahun ini, Saiful mengaku tidak ikut seleksi CPNS. Dia menyadari usianya sudah tak memenuhi syarat, sudah 46 tahun. Padahal, aturan yang kini berlaku usia guru honorer K2 disyaratkan maksimal 35 tahun. "Harapan saya pembatasan usia dihapus saja," ujarnya.Â
Saiful tidak seorang diri. Tiga rekannya, sesama guru honor di SDN Putat Jaya II bernasib sama. Mereka ialah Harnanik (36), Endang Fatmawati (45), dan Hepri Wahyudi (35). Hepri masih harap-harap cemas setelah mengikuti tes CPNS beberapa pekan lalu. Ini adalah kesempatan terakhirnya dan berharap lolos.Â