- ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Antara lain, teh, tembakau, kopi, gula, dan berbagai perkebunan lainnya. Untuk itu dibutuhkan banyak pekerja di berbagai perkebunan yang tersebar di nusantara.
Awal abad ke-19, dengan adanya kebijakan ini, Nusantara di bawah Hindia Belanda resmi menjadi bagian dari sistem kapitalis global.
Dari waktu ke waktu, angka populasi komunitas Tionghoa di wilayah Nusantara dicatat meningkat sebagai disebutkan jurnal tersebut. Angkanya pada 1860 hingga 1920 menunjukkan peningkatan. Pada 1860 ada sekitar 221.438 jiwa, tahun 1880 menjadi 343.793 jiwa, kemudian 1890 sekitar 461.089 jiwa. Selanjutnya, pada 1900 terdapat 537.316 jiwa dan 1920 tercatat sudah ada 809.039 jiwa.
Untuk periode 1921 hingga 1930, populasi pendatang warga China dan keturunannya di Nusantara menyentuh angka 1.233.214 jiwa yakni 582.431 jiwa di Jawa dan Madura serta 650.783 jiwa di luar Jawa dan Madura.
Namun, angka masuknya imigran dari China dilaporkan menurun sejak 1930. Kondisi itu terjadi lantaran dunia tengah mengalami Great Depression yakni depresi ekonomi global terburuk yang pernah melanda kawasan global.Â
Pada era depresi, kolonial memberlakukan pajak dan uang masuk yang cukup mahal bagi imigran yang akan masuk ke wilayah okupasinya. Saat itu, untuk imigran Tionghoa dipatok tarif 50 hingga 100 Guilders yang menyebabkan berkurangnya imigran legal yang masuk. Â
Pada 1932, dicatat ada 7.069 imigran yang masuk, namun angka itu turun pada 1933 setelah tarif masuk berlaku, yakni menjadi 4.936 imigran China. Setelah itu, pertumbuhan populasi komunitas Tionghoa di Nusantara bertitik berat pada angka kelahiran dan penduduk Tionghoa yang sudah ada di Indonesia, bukan lagi pada pendatang langsung dari negeri Tirai Bambu.
Poligami
Perkembangan populasi Tionghoa di Indonesia tak terlepas dari tingginya tingkat kelahiran dan pertumbuhan di komunitasnya. Aspek kultural dan kebiasaan dalam perkawinan tak ketinggalan menggenjot angka populasi Tionghoa.Â
Meski awalnya para imigran China masuk tanpa membawa istri maupun dalam keadaan lajang, mereka pada akhirnya akan hidup berkeluarga menjelang dan sesudah mapan. Para imigran China yang sudah mendapatkan pekerjaan di Nusantara dan berkeluarga akan mendatangkan keluarga mereka untuk menyusul. Akhirnya tinggal dari generasi ke generasi dan menjadi warga Indonesia.