- ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho
Sementara itu, para lajang Tionghoa biasanya mencari potensi calon istri dari warga lokal yang biasanya dianggap tak menyusahkan dari aspek suku dan agama. Kecenderungan imigran pria Tionghoa pada masa itu akan mencari perempuan biasanya dari wilayah Jawa, Bali, dan Sulawesi.Â
![]()
Populasi warga Tionghoa di Tangerang
Perkembangan populasi Tionghoa di Jawa khususnya di Batavia kala itu juga bisa direkam dari catatan sensus yang dimiliki Kantor Administrasi Khusus China yang berdiri sejak 1717 dan wajib hingga 1919.Â
Pada periode itu, aturan administrasi mewajibkan warga Tionghoa yang menikah, melahirkan dan bercerai harus mencatatkan diri di kantor yang belakangan diketahui disebut dengan Kong Koan. Setelah 1919 kewajiban terbilang longgar walau sensus tetap diadakan.
Data pada 1930 menunjukkan bahwa ada 10.791 perempuan lokal yang menikah dengan pria Tionghoa dan kemudian akan dihitung sebagai keturunannya. Hampir setengah perempuan itu disebut berdarah Jawa, meski angka itu diyakini sebenarnya lebih besar lantaran potensi orang tak mencatatkan pernikahan era itu pasti ada.
Populasi yang meningkat di komunitas Tionghoa juga tak terlepas dari kebiasaan poligami yang dimaklumi terjadi pada saat itu. Poligami menjadi praktik yang mafhum apalagi di kalangan warga Tionghoa yang sudah mampu secara ekonomi.Â
Praktik inilah yang membuat keluarga komunitas Tionghoa biasanya merupakan keluarga besar. Jumlah anak bisa belasan bahkan di atas 20 orang.
Tersebut antara lain nama pejabat di Batavia yang terkenal yakni Khouw Tjeng Tjoan yang diketahui memiliki 15 istri dan 24 orang anak. Yang juga membangun keluarga super besar adalah Oei Tiong Ham, sang Raja Gula Jawa tersebut. Dia memiliki empat istri dan 26 anak. (art)