SOROT 538

Dari Pedagang hingga Raja Gula

Sejumlah warga Tionghoa membersihkan patung dewa dewi di Klenteng Hok Tek Bio Salatiga, Jawa Tengah, Selasa, 29 Januari 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho

Sementara itu, para lajang Tionghoa biasanya mencari potensi calon istri dari warga lokal yang biasanya dianggap tak menyusahkan dari aspek suku dan agama. Kecenderungan imigran pria Tionghoa pada masa itu akan mencari perempuan biasanya dari wilayah Jawa, Bali, dan Sulawesi. 

img_title Jembatan Baru China-Korut Dibuka, Persaingan Pengaruh dengan Rusia Jadi Sorotan

Kawasan Pecinan Pasar Lama Tangerang

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Populasi warga Tionghoa di Tangerang

img_title Belum Puas, BYD Mau Boyong Atto 2 ke Indonesia Pakai Baterai Baru

Perkembangan populasi Tionghoa di Jawa khususnya di Batavia kala itu juga bisa direkam dari catatan sensus yang dimiliki Kantor Administrasi Khusus China yang berdiri sejak 1717 dan wajib hingga 1919. 

Pada periode itu, aturan administrasi mewajibkan warga Tionghoa yang menikah, melahirkan dan bercerai harus mencatatkan diri di kantor yang belakangan diketahui disebut dengan Kong Koan. Setelah 1919 kewajiban terbilang longgar walau sensus tetap diadakan.

img_title Omoda 5 Kena Recall Lagi, Ini Pesan Chery Indonesia untuk Konsumen

Data pada 1930 menunjukkan bahwa ada 10.791 perempuan lokal yang menikah dengan pria Tionghoa dan kemudian akan dihitung sebagai keturunannya. Hampir setengah perempuan itu disebut berdarah Jawa, meski angka itu diyakini sebenarnya lebih besar lantaran potensi orang tak mencatatkan pernikahan era itu pasti ada.

Populasi yang meningkat di komunitas Tionghoa juga tak terlepas dari kebiasaan poligami yang dimaklumi terjadi pada saat itu. Poligami menjadi praktik yang mafhum apalagi di kalangan warga Tionghoa yang sudah mampu secara ekonomi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Praktik inilah yang membuat keluarga komunitas Tionghoa biasanya merupakan keluarga besar. Jumlah anak bisa belasan bahkan di atas 20 orang.

Tersebut antara lain nama pejabat di Batavia yang terkenal yakni Khouw Tjeng Tjoan yang diketahui memiliki 15 istri dan 24 orang anak. Yang juga membangun keluarga super besar adalah Oei Tiong Ham, sang Raja Gula Jawa tersebut. Dia memiliki empat istri dan 26 anak. (art)

Ilustrasi kue bulan.

Daya Beli Warga China Melemah, Tradisi Belanja Besar saat Festival Mulai Meredup

Festival Pertengahan Musim Gugur 2026 di China menunjukkan penurunan daya beli masyarakat di sana.Hal ini terbukti dari menurunnya penjualan kotak hadiah hingga kue bulan

img_title
VIVA.co.id
22 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut