- VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis
Meski persaingan bisnis online dan offline belum dianggap besar oleh Hypermart dan Carrefour, tapi Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani justru mengakui persaingan itu nyata, dan memang bukan satu-satunya faktor yang membuat bisnis ritel jadi megap-megap.Â
"Industri ritel ini memang sekarang sedang sulit ya, jadi memang kita harus akui bahwa ada kompetisi antara offline dan online yang sekarang ini harus kita jaga. Saya rasa masalah industri ritel saat ini bukan hanya dirasakan di Indonesia saja, tapi secara global memang demikian," kata Shinta ketika ditemui VIVA di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Rabu, 3 Juli 2019.
Karena, Shinta melanjutkan, saat ini banyak faktor yang menyebabkan kondisi itu. Bukan hanya online, tapi outlet-outlet sekarang ini kondisinya tidak bisa seperti dulu. "Karena faktor e-commerce memegang peranan," ujar dia.
Peneliti ekonomi Indef, Berly Martawardaya, mengakui bisnis online mulai menjadi tantangan bagi industri ritel. Tapi, menurutnya, industri ritel harus memperkuat segmennya, apakah akan bermain di area low cost atau high value.Â
Industri ritel, menurut Berly, harus update dengan kemauan konsumen yang cepat berubah. Mereka harus paham apa yang menjadi kebutuhan konsumennya.Â
"Meski jadi tantangan, tapi segmentasi dia harus kuat. Dalam bisnis marketing kan yang penting itu segmentasi positioning. Jadi harus jelas segmen yang mau dikejar, mau yang low cost atau yang high value. Dan itu strateginya beda, enggak sama," ujarnya.
Kegagalan Giant, ujar Berly, adalah salah satu bukti. Giant dan Hero tak kuat dalam menjejakkan posisi. Mereka tak lebih murah dari Hari Hari, tapi juga tak selengkap ritel yang lain.Â
"Ketika positioning tak cukup kuat maka bisnis ritel tak akan bisa bertahan," ujarnya. (art)