SOROT 564

Waspada Benih Radikalisme

Potensi radikalisme di lima provinsi di Indonesia hasil survei BNPT, The Nusa Institute, dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme/Ilustrasi.
Sumber :
  • VIVA.co.id/BNPT

VIVA –  "Kenapa isu ini diangkat lagi."

img_title 620 Anak Terpapar Radikalisme Lewat Media Sosial Sepanjang 2026

Demikian Muhammad Anis bertanya kepada wartawan usai pengukuhan dua guru besar di Aula Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu, 31 Juli 2019. Raut wajah Rektor UI itu terlihat kesal. Dengan dahi mengkerut di atas kacamatanya, Anis heran isu radikalisme kembali muncul dan diangkat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Akademisi senior itu kecewa karena kampus selalu dikaitkan dengan isu penyebaran paham radikalisme. Padahal, faktanya belum tentu demikian. Anis pun merespons riset yang dikeluarkan Setara Institute bertajuk 'Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa: Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di PTN'.

img_title Wamenag Minta Publik Tak Langsung Kaitkan Ledakan di MAN 3 Padang dengan Radikalisme

Dalam riset itu, Setara mencantumkan UI sebagai satu dari 10 perguruan tinggi negeri yang terpapar paham radikalisme.  Anis mempertanyakan riset Setara dengan menyeret UI. Ia menekankan kampus yang dipimpinnya terbebas dari paham radikalisme. Namun, mungkin yang ada menurutnya adalah intoleran.

"Jadi menurut saya radikalisme itu enggak ada di dalam kampus. Mungkin yang ada itu adalah intoleran, itu mungkin ada, walaupun jumlahnya sangat kecil,” ujar Anis.

img_title 3 Fitur Game Online yang Disukai Pelaku Terorisme dan Radikalisme

Rektor UI Muhammad Anis

Rektor UI, Muhamad Anis

Penyebaran benih-benih paham radikal ke masyarakat dengan sasaran pertama perguruan tinggi dinilai sudah lama. Dan perguruan tinggi menjadi salah satu muara potensial dengan menyasar calon intelektual seperti mahasiswa.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ismunandar mengatakan, dari penelitian benih radikal ini sudah muncul sejak 1980-an. Menurut dia, saat itu pemberlakuan normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1980-an atau saat Orde Baru menjadi salah satu pemicu.

Luthfi Assyaukanie dalam bukunya, Ideologi Islam dan Utopia (2011:3), era pemerintahan Soeharto menerapkan kebijakan represif terhadap Islam. Hal ini dinilai berdampak pada sikap politik dan mentalitas kaum Muslimin Indonesia. Namun, kebijakan Orba hanya salah satu faktor penyebab.

"Tapi, ini bukanlah satu-satunya faktor yang menjelaskan mengapa terjadi perubahan radikal," demikian dikutip dari buku tersebut.

Radikalisasi Instan?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

?

Menguatnya penyebaran paham radikalisme saat ini dinilai karena prosesnya yang didukung perkembangan teknologi. Mantan teroris Ali Fauzi mengatakan, radikalisme di era sekarang sudah berbeda dengan zaman sebelumnya termasuk Orde Baru. Bukan hanya mengincar lewat jalur kampus.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut