- VIVA/Muhamad Solihin
“Karena ketika itu Indonesia membutuhkan pengakuan dari negara-negara lain untuk menjadi sebuah bangsa," ujar Yendra.
"Karena selain mubaligh, beliau memiliki kecakapan bahasa asing, selain bahasa Arab, juga bahasa Urdu. Beliau sampaikan ke negara-negara luar bahwa dunia harus mengakui Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka,” tutur Yendra.
Selain itu, ada perintah khusus dari Khalifah Ahmadiyah yang meminta kepada seluruh jemaah Ahmadiyah di seluruh dunia untuk berpuasa Senin Kamis demi kemerdekaan Indonesia. “Jadi itu perintahnya memang spesifik khusus untuk Indonesia,” Yendra menambahkan.
Tak mau kalah, tokoh Ahmadiyah asal Indonesia juga ikut berjuang merebut kemerdekaan. Sebut saja R Mohamad Muhyiddin. Ketua Hoofdbestuur Jemaat Ahmadiyah Indonesia ini menjadi pegawai tinggi Kementerian Dalam Negeri dan aktif dalam mempertahankan kedaulatan RI di Jakarta.
Pada 1946, ia diangkat sebagai Sekretaris Panitia Perayaan Kemerdekaan RI yang pertama, yang sedianya juga akan memegang bendera Sang Merah Putih di muka barisan.
Kemudian Entoy Mohammad Tayib. Pria kelahiran Singaparna 2 Februari 1900 ini merupakan pejuang kemerdekaan sejak masih aktif di Pemuda Serikat Islam pada 1918. Karena perjuangannya, ia mendapatkan penghargaan sebagai perintis kemerdekaan.
“Belakangan juga kita mengetahui bahwa Wage Rudolf Supratman juga sebagai Ahmadi,” ujarnya.
Meski demikian, Yendra mengaku belum pernah membaca literatur atau sumber resmi bahwa WR Supratman mempunyai kedekatan dengan JAI. Dia hanya sempat mendengar cerita jika pencipta lagu Indonesia Raya tersebut pernah tinggal di Petojo Utara, lokasi yang sekarang berdiri Masjid Al Hidayah.
Nanang RI Iskandar dalam bukunya ‘Fatwa MUI & Gerakan Ahmadiyah Indonesia’ menyebut bahwa H.O.S Tjokroaminoto adalah seorang Islam Ahmadiyah Lahore pertama di Indonesia. Pria yang bernama lengkap Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto ini juga menerjemahkan buku Da'watoel Amal atau Pengadjakan Bekerdja dari Muhammad Ali sekitar tahun 1925.
Guru sejumlah tokoh pergerakan nasional ini juga menerjemahkan The Holy Quran: Teks Arab, Terjemahan dan Commutary karya Maulana Muhammad Ali Ke dalam Bahasa Melayu.
Proklamator dan Presiden pertama RI, Soekarno juga disebut dekat dengan Ahmadiyah. Di dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno menunjukkan ketertarikannya dan mengakui pandangan-pandangan Ahmadiyah.