- VIVA/Muhamad Solihin
Di dalam buku tersebut Soekarno juga menceritakan penghormatannya kepada JAI. Dua mubaligh Ahmadiyah almarhum Abdul Wahid HA dan almarhum Malik Aziz Ahmad Khan yang pada akhir 1945 bertugas di Yogyakarta sebagai penyiar RRI untuk siaran Bahasa Urdu juga aktif memperkenalkan perjuangan bangsa Indonesia ke luar negeri.
Khilafah dan Nasionalisme
Meski menggunakan sistem kekhilafahan, Ahmadiyah mengaku menjunjung nasionalisme. Yendra mencontohkan, pada 2012 Khalifah Ahmadiyah diundang untuk berpidato di markas tentara Jerman.
Saat itu, ada isu terkait imigran asal Timur Tengah dan Islamphobia. Dalam pidatonya, Khalifah Ahmadiyah menyatakan bahwa patriotisme dalam Islam bukan cuma dianjurkan, tapi diwajibkan.
“Jadi kecintaan kepada Tuhan itu mensyaratkan orang itu harus mencintai bangsanya sendiri,” Yendra menirukan.
Menurut dia, cinta Tanah Air itu dilakukan dan diajarkan Nabi Muhammad SAW. Pandangan Ahmadiyah yang menunjukkan patriotisme hanya ingin melanjutkan hal itu. “Karena patriotisme kepada bangsanya dan agamanya itu harus menjadi satu tarikan napas, tidak boleh itu dipisahkan,” ujar Yendra.
“Kalau misalnya hari ini kita berperang dengan Pakistan, dan kita tahu banyak Ahmadiyah di Pakistan, kalau kita harus berperang, kita perang-perang saja. Tanpa harus kita berpikir bahwa saudara-saudara kita Ahmadiyah ada di sana,” ujarnya menegaskan.
Iskandar Zulkarnain dalam bukunya ‘Gerakan Ahmadiyah Di Indonesia’ menulis bahwa Ahmadiyah menerima dan memperjuangkan Pancasila sebagai asas negara. Keputusan itu diambil dalam muktamar Ahmadiyah di Purwokerto pada 1947.
Pada waktu itu hingga menjelang Pemilu 1955, arus yang menghendaki Islam sebagai asas negara masih sangat kuat. Namun, Gerakan Ahmadiyah Indonesia nampaknya menyadari bahwa sebagai dasar perjuangan untuk syiar Islam, Pancasila sudah tepat apabila dijadikan sebagai dasar negara.
Nasionalisme itu tak hanya diwujudkan dalam politik, namun juga ditunjukkan dalam bidang lain. Salah satunya di dalam olah. “Piala Thomas pertama diraih Ali Solihin. Dia Ahmadi. Kemudian Jamaludin juga orang Ahmadi, mereka jadi pendekar-pendekar bulu tangkis,” ujar Yendra.
Atas Nama Kemanusiaan
Jamaah Ahmadiyah kerap menjadi korban kekerasan, intimidasi dan persekusi. Sebut saja di Lombok, Cikeusik, Tasikmalaya, Depok, Parung, dan sejumlah wilayah lain. Meski demikian, mereka mengaku tak sakit hati apalagi dendam.