- VIVA/Dani
Direktur Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat, Dr. dr. Elly Marliyani Sp. KJ Elly mengatakan, institusi yang ia pimpin ini juga menerima dan merawat anak dan remaja yang mengalami gangguan jiwa karena kecanduan gawai.
Namun, cara pengobatannya sedikit berbeda dengan Marsan. Jika Marsan mengandalkan doa dan ramuan, rumah sakit ini menggunakan psikofarmaka.
“Untuk menyembuhkan mereka, saat dirawat tentu tidak menggunakan ponsel, tidak bermain game. Mereka diberi obat psikofarmaka, diobati juga penyakit gangguan jiwa penyertanya, juga diberikan psikoedukasi, terapi aktivitas kelompok, dan psikoterapi,” ujar Elly kepada VIVAnews, Kamis, 24 Oktober 2019.
Bahaya Gawai Mengintai
Marsan mengatakan, masyarakat khususnya ibu-ibu untuk mengawai anak-anaknya saat bermain gawai. Menurut dia, anak-anak jangan diberi kebebasan untuk menggunakan gawai berlebihan. Karena, jika mereka sudah kecanduan akan sulit menanganinya.
Menurut dia, anak-anak atau remaja kalau sudah suka dan otaknya terangsang suatu permainan yang menyenangkan, dia akan terhipnotis. Dan jika sudah terhipnotis, saat dilarang jiwanya akan berontak.
Untuk anak usia di bawah umur 10 tahun kalau dilarang akan berontak. Tapi kalau untuk anak yang sudah berumur 10 tahun ke atas, kalau dilarang bisa bertindak secara fisik.
“Mereka sampai melukai ibunya, sampai dia banting-banting barang di rumah. Itu artinya anak itu kejiwaannya sudah kena,” ujarnya.
Selain itu, anak yang kecanduan gawai akan lupa waktu dan menyebabkan anak itu tidak mau bermain seperti anak-anak seusianya. “Kalau anak sudah kecanduan hp, kalau ibunya nyuruh makan, pasti dia akan bilang entar dan entar. Bagi dia tidak ada yang menarik selain permainan yang ada di hpnya,” ujarnya menambahkan.
Jadwal aktivitas pasien di Yayasan AL Fajar Berseri
Menurut dia, jangan sampai anak-anak kecanduan gawai. Sebab jika sudah kecanduan berbahaya, sama seperti narkoba.
“Kalau orang sudah kecanduan narkoba ketika tidak ada narkoba, dia pasti akan gelisah, dan kalau sudah gelisah, dia pasti bisa depresi. Begitu juga dengan hp,” ujarnya.
Marsan mengatakan, ke depan orang yang kena gangguan jiwa bakal lebih banyak bukan karena masalah pribadi atau ekonomi. Juga bukan karena percintaan atau masalah keluarga, tapi karena gawai.