SOROT 116

Obsesi Star Trek dan Janji Johny

Astronom Indonesia Johny Setiawan di Observatorium La Silla Chile
Sumber :
  • www.mpia.de

Planet yang jaraknya 2000 tahun cahaya dari bumi itu, masih bertahan hidup, di saat bintang induknya memasuki fase penuaan, atau dikenal dengan fase 'bintang raksasa merah'.

img_title PBB Sebut Pemilihan Presiden AS Akan Berdampak Global

Fase ini ditandai dengan pendinginan bintang, dan mekarnya ukuran bintang itu menjadi ratusan kali lipat dari radius matahari. Oleh karenanya, bintang tua itu akan menarik, dan membakar planet-planet yang berada di sekelilingnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Planet temuan Johny sendiri diperkirakan tak akan bisa terus bertahan hidup. Kini, planet yang punya massa 1,25 kali massa Jupiter itu, memiliki jarak dengan bintang induknya, yang hanya 12 persen dari jarak bumi dan matahari. Johny memperkirakan pada tahap berikutnya, bintang HIP 13044 akan kembali mekar, dan kemungkinan juga akan menelan planet HIP 13044 b.

img_title Fitur Ini Bantu Kurangi Emisi Karbon

Galaksi Bima Sakti dan Matahari, dalam perhitungan Johny, juga akan mengalami fase sama sekitar 5 miliar tahun mendatang. Saat itulah, planet-planet dalam seperti Merkurius, Venus, termasuk Bumi, akan dilalap oleh matahari. Sementara Jupiter, Saturnus, dan planet-planet luar lain juga akan terus bergerak mendekat Matahari.

Hal lain yang cukup mengejutkan dari hasil riset tim selama enam bulan itu, bintang induk HIP 13044, yang diperkirakan mengandung hidrogen, dan helium, serta miskin kandungan logam, ternyata bisa memiliki planet. Padahal, teori formasi planet mensyaratkan adanya kandungan logam dan elemen berat yang cukup untuk bisa menarik gas untuk bisa tumbuh berkembang.

img_title Ilmuwan Temukan Planet Menakjubkan di Dekat Bumi

"Nampaknya ada beberapa hal yang perlu diubah dalam teori proses formasi planet. Penemuan ini jelas menguji 'kemantapan' pendapat bahwa bintang berkandungan logam rendah tak dapat punya planet," ujar Johny kepada VIVAnews melalui surat elektroniknya. Oleh karenanya, Johny sendiri kaget dengan hasil temuan timnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setidaknya bukan cuma Johny yang terkejut dengan penemuan ini. Alan Boss, seorang pakar pembentukan planet dari Carnegie Institution for Science di Washington D.C., mengatakan bahwa penemuan ini adalah sebuah 'kabar besar', karena ini merupakan sebuah anomali.

"Planet ini ... sepertinya tak terbentuk melalui mekanisme konvensional yaitu melalui inti masif batuan dan es yang lalu menarik gas-gas untuk membentuk sebuah planet," kata Boss, yang tak terlibat penelitian ini, kepada National Geographic.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut