- www.mpia.de
Star Trek
Jika Anda berjumpa Johny, mungkin Anda tak akan mengira bahwa dia seorang astronom. Postur tubuhnya atletis. Dia memang gemar body building. Potongan rambutnya cepak. Tak tampak gaya seorang peneliti pada dirinya, apalagi pengamat luar angkasa profesional.

Tapi, Johny sudah lama bercita-cita jadi astronom. Sejak kecil, ayahnya sering mengajaknya melihat bintang di angkasa. Pada usia empat tahun, Johny terkesan dengan film fiksi ilmiah besutan Gene Roddenbery, Star Trek, yang menggambarkan eksplorasi manusia ke luar angkasa.
Obsesi Johny membawanya mengambil studi S1 di jurusan Fisika di University of Freiburg Jerman, kemudian S2 dan S3 di University of Freiburg dan Kiepenheuer Institute for Solar Physycs. Ia berhasil menyabet gelar Doktor dengan predikat Magna Cum Laude, sekaligus melempangkan jalannya bergabung dengan Max-Planck Institute for Astronomy di Heidelberg.
Walau terkesan lancar dalam meniti karirnya, namun pekerjaannya bukan tanpa hambatan. Selama lebih dari 18 tahun, banyak suka duka yang mewarnai kegiatan kuliah dan bekerja di Jerman.
Yang terberat bagi Johny adalah saat ia musti tinggal berminggu-minggu di observatorium La Silla Chile di lingkungan gurun Atacama yang merupakan salah satu gurun paling kering di dunia. "Aktivitas itu membutuhkan stamina tinggi, apalagi di musim dingin," Johny menjelaskan.
Setidaknya, tuntutan pekerjaannya membuat Johny mampu berkomunikasi dalam lima bahasa: Inggris, Jerman, Spanyol, Perancis, dan tentu saja Indonesia. Bakat melukis Johny pun tersalurkan.
Johny yang belajar melukis secara otodidak, mengabadikan planet-planet yang ia temukan ke dalam lukisannya. Karya-karya lukisan Johny sempat dimuat di New York Times dan National Geographic. Johny juga mendalami videografi sambil mendokumentasikan perjalanan serta aktivitas kerjanya.
Planet serupa bumi
Di luar itu, beragam penemuan Johny, ternyata didasari oleh satu keyakinan bahwa ada habitable planet (planet yang bisa dihuni manusia) yang serupa dengan bumi. Johny juga membuka kemungkinan adanya kehidupan lain selain manusia di jagad semesta ini.
"Saya sangat yakin dengan keberadaan planet-planet habitable serupa bumi karena memang secara statistik, mereka mudah terbentuk dan seharusnya jumlahnya banyak," kata Johny. Tinggal seberapa cepat manusia bisa meningkatkan teknologi untuk menemukan planet-planet tersebut.