- merpatikualalumpur.wordpress.com
KNKT pun mengirimkan kotak hitam atau black box pesawat Merpati MA-60 ke China, Kamis 12 Mei. "Kami tidak punya alat downloader-nya, sehingga harus datang ke China," ujarnya.
Kotak hitam adalah alat yang merekam data penerbangan (flight data recorder-FDR) dan perekam suara di kokpit (cockpit voice recorder-CVR). Alat ini merekam pembicaraan pilot dengan Air Traffic Control (ATC), serta mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan.
Ketua Sub Komite Udara KNKT, Masruri, menambahkan, kondisi kotak hitam penyok saat diterbangkan ke China. "Tapi, kami tetap berharap investigasi tak lama, mudah-mudahan bisa satu pekan," kata dia kepada VIVAnews.com.
Hasil investigasi itu selanjutnya akan dianalisis oleh tim terdiri dari operator penerbangan, pilot, engineer, hingga ahli dari KNKT. "Jadi, kami tidak bisa menduga-duga sebelum ada kesimpulan akhir," tuturnya.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti, menduga badan pesawat pecah saat 'mendarat' di laut. Namun, bagaimana proses 'pendaratan' pesawat itu, hingga saat ini belum ada kesimpulan. Kementerian Perhubungan masih menunggu hasil investigasi KNKT. "Proses turunnya [ke laut] kami belum tahu, apakah [pilot] melihat secara clear landasan, atau tidak," jelas dia.
Proses mendarat di laut itu ada dua kemungkinan. Jika mendarat dalam kondisi mulus, badan pesawat tak akan pecah. Sebaliknya, jika pendaratannya buruk, badan pesawat akan pecah. "Jadi, apakah pesawat mendarat di laut, atau memang jatuh, tim dari KNKT masih mengidentifikasi," ujarnya.
Menurut Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines, Sardjono Jhony Tjitrokusumo, saat hendak mendarat pesawat memang sempat berputar dua kali karena cuaca buruk. Kejadian berikutnya, pesawat dilaporkan kecelakaan. "Tak ada tanda may day call [panggilan darurat]. Tower [petugas bandara] juga sama sekali tidak menerima sinyal mayday call," ujarnya.
Jika berdasarkan fakta itu, dia menjelaskan, pesawat sedang tak dalam keadaan darurat [emergency]. "Tapi, untuk kepastiannya, kami tetap menunggu hasil penyelidikan CVR dan FDR," ujarnya.
Apakah artinya kecelakaan bukan disebabkan oleh kegagalan teknis, Sardjono hanya mengatakan itu salah satu kemungkinan dari beberapa kemungkinan yang ada. "Kami belum tahu pasti. Kami cuma bisa bilang supaya CVR didengar dulu, FDR dibaca dulu, lalu KNKT menyimpulkan. Baru kami kemukakan argumen," ujarnya.