Saat itu, ayah ingin berjuang agar petani menjadi sejahtera dan makmur. Jika mereka kaya, petani tak perlu menjual tanahnya sehingga kita bisa swasembada beras.
Semakin banyak pengusaha yang terjun ke politik, menurut Anda apa motivasinya?
Belum cukup banyak. Mereka mau terjun karena mengalami kondisi nyata yang dihadapi pengusaha. Saya kasih contoh, soal teknologi informasi, bandwith itu kan mahal. Penyebabnya adalah Pph Pasal 26 berupa pajak final 20 persen atas impor barang dari luar negeri. Kemudian, bandwith dikenai pajak sebagai barang royalti atau punya hak paten. Padahal, bandwith tidak terkait dengan paten dan hak cipta.
Gara-gara DPR tidak tahu dan seenaknya, asal ketok palu UU saja, industri teknologi informasi tidak bisa tumbuh dan maju. Kami kan jadi kesal, kesal sekali. Itu kan bisa terjadi karena DPR tidak mengerti. Sumbernya, ya karena politikus lebih banyak diisi bukan dari kalangan pebisnis.
Coba saja tengok, pernyataan Menteri Komunikasi bahwa tarif internet harus turun 200 persen. Loh, bagaimana mau diturunkan 200 persen, jika bandwith saja tidak turun segitu. Kalau dipaksa turun, nanti industrinya bangkrut. Tapi, kalau pemerintah mau memberi subsidi, itu justru jadi beban baru. Yang perlu adalah stimulus-stimulus pajak tadi.
Artinya perlu lebih banyak pengusaha di DPR?
Pengusaha memang diperlukan di DPR. Tapi, harus seimbang. Kalau lebih banyak pengusaha, nanti malah kebablasan. Yang diperlukan di DPR adalah, akademisi, politikus dan pengusaha menjadi satu. Akedemisi adalah orang yang peduli masyarakat banyak dan suatu yang ideal.
Apa strategi Anda agar bisa lolos ke Senayan?
Saya sebenarnya senang dengan sistem pemilihan baru dimana suara terbanyak yang terpilih. Tapi, ini juga sulit karena banyak pemilih yang mengalami kepahitan hidup. Misalnya, di Jakarta Barat dan Utara, mereka mengalami kepahitan dagang.
Di sana, banyak juga penduduk yang kecewa karena miskin. Jadi, mental golput sudah dominan. Untuk meyakinkan mereka perlu perjuangan berat. Saya harus meyakinkan bahwa mereka bisa memilih figur yang mereka harapkan duduk di DPR. Saya ingin mereka sadar bahwa yang dipilih adalah harapan mereka.
Berapa lama sosialisasi?
Saya baru tahu jadi caleg DPR dari Daerah Pemilihan III , meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, September 2008. Oktober ada kegiatan di luar negeri. Saya baru bisa mulai sosialisasi pada akhir Desember. Jadi, mulai relatif paling belakang dibandingkan dengan caleg lain yang mulai Juni.
Yakin bisa lolos?