Dari Bisnis ke Politik

“Tanpa Pengusaha, DPR Asal Ketok Palu”


Ya, saya tentu optimistis. Ini sesuatu yang menantang dan memberi harapan buat saya dan masyarakat. Karena itu saya ladeni dari pagi sampai malam suntuk. Rata-rata saya berangkat dari pukul 6 pagi dan pulang pukul 2.00 dini hari. Saya harus menunggu pemulung kumpul setelah bekerja. Itu biasa selesai sampai pukul 2.00 pagi.

Anda janji apa kepada mereka?

Saya tidak bisa bicara muluk-muluk. Mereka jadi pemulung karena tidak ada pekerjaan di desanya. Mereka boleh makan sembarangan, tetapi buat anak tetap makan tiga kali dan tetap mengutamakan anak bisa sekolah. Kami buatkan balai-balai dan kirim relawan untuk mengajar anak mereka.

Kelompok masyarakat mana yang perlu usaha keras untuk diyakinkan?

Justru golongan menengah ke atas. Mereka apatis dan tidak tertarik ikut pemilu. Susah. Sosialisasi sekali, sama sekali tidak cukup. Saat pertama sosialisasi, mereka bilang OK. Tapi, akan tanya teman-temannya dulu.

img_title iPhone 18 Absen di Acara Besar Apple

Setelah itu, teman-temannya tanya lagi. Baru sosialisasi ketiga, mereka sepakat. Jadi, sulit sekali. Itu belum sampai memilih Sylvi tuh. Jadi, sangat sulit sekali. Tapi, kalau bicara soal dagang, gampang sekali.

Maksudnya lebih mudah dengan bahasa dagang?
 
Kebetulan 13 tahun, saya berdagang dengan mereka. Buka akses internet, saya jual ke mereka. Jadi, mereka jual paket modem, bermitra dengan saya. Perjuangan untuk Pph jasa untuk transaksi komputer dan software, aku mewakili mereka. Dagang memang mudah, karena sudah banyak kenal. Tapi, meyakinkan mereka ikut pemilu tidak gampang.

Bagaimana kalau kalangan akar rumput ?

Ini lebih mudah. Sebab bagi mereka, sandang, pangan dan papan itu perlu. Tapi, untuk kalangan pengusaha bagaimana. Sandang tak perlu, pangan tak perlu, papan juga tak perlu.

Anda sudah menghabiskan dana berapa banyak?

Cukup besar. Tapi, tidak sebesar caleg lain. Kenapa. Karena untuk sosialisasi, saya sudah punya posko-posko yang dibangun untuk pengajaran dan pengobatan gratis. Itu sudah jalan sejak 10 tahun lalu. Misalnya, di Cengkareng, Grogol, Jelambar, Muara Kamal.

Cukup besar itu berapa?

Kembali lagi ke situ. Aku nggak mau kasih tahu. Pokoknya lumayan deh. Tapi, dibandingkan caleg lain jauh lebih murah. Kenapa? Karena justru mereka yang undang saya untuk sosialisasi. Misalnya, ke Mangga Dua atau Glodok, mereka mengundang saya sebagai sahabat. Makanan mereka traktir, orang dikumpulkan, atribut dibuatkan. Senang sih. Tapi, diminta ikut pemilu sulit.

Siapa pesaing terberat Anda?

Saingan saya, semuanya berat. Dari PDS ada Ketuanya Ruyandi Hutasoit, PKS  ada Adang Daradjatun, PDI-P Effendi Simbolon, dari Golkar ada Ketua DPRD Ade Subrata, ada Roy BB Janis dari PDP. Jadi, ini medan yang berat sekali bagi diriku.

Anda butuh suara berapa?

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut