SOROT 281

WhatsApp, dari Nol ke Triliuner

Pendiri WhatsApp, Jan Koum.
Sumber :
  • REUTERS/Albert Gea

img_title Anggota DPR: Peningkatan SDM Kunci Kinerja dan Hilirisasi Minerba

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Anak muda yang putus kuliah itu kini masuk ke dalam daftar orang terkaya di California.
img_title Amanda Rigby Disebut Mirip Erin, Netizen Soroti Wajahnya di Tengah Kabar Nikah dengan Andre Taulany
Forbes memperkirakan Jan Koum, pemilik 45 persen saham WhatsApp, mendapatkan tambahan kekayaan sebesar US$6,8 miliar.
img_title 5 Aplikasi yang Bisa Membantu Layar HP Terlihat Lebih Pas untuk Kerja, Baca, dan Hiburan


Masa suram

Masa muda Koum berbeda seratus delapan puluh derajat. Masa kecilnya jauh dari kata sejahtera, kaya, apalagi glamor. Dia dibesarkan sebagai anak tunggal di negeri yang jauh dari Amerika Serikat. Pada hari Selasa, 24 Februari 1976, Koum lahir di tanah negeri komunis, Ukraina, tepatnya di Kiev.

Sehari-hari, dia tumbuh dengan kasih sayang seorang ibu rumah tangga. Ayahnya bekerja sebagai seorang manajer konstruksi yang membangun sekolah dan rumah sakit. Walau anak seorang manajer, hidupnya tidak berkecukupan. Di negera beriklim dingin, Koum dan keluarga bahkan tidak pernah merasakan fasilitas air panas. Jangankan air panas, pesawat telepon pun tidak punya untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Pada zaman itu, menurut Koum, mempunyai pesawat telepon di rumah percuma saja. Karena, saat itu rezim yang berkuasa kerap menyadap sambungan telepon semua warganya. Saat tersambung, sering diputus.

Hidup terkekang di rezim otoriter membuat keluarga Koum makin tidak kerasan. Sang ibunda mulai menghitung-hitung tabungan untuk masa depan Koum kelak. Bermodal nekat dan uang tabungan seadanya, dia terbang bersama Koum ke Amerika Serikat. Sebagai orang tua, cita-citanya tidak muluk. Dia hanya ingin masa depan Koum lebih baik.

Kala itu, usia Koum menginjak usia 16 tahun. Sesampai di Negeri Paman Sam, dia dan ibunya menetap di Mountain View, California. Mereka mendapatkan apartemen dengan dua kamar tidur yang sempit. Tempat tinggal itu pun diperoleh karena bantuan pemerintah. Bukan dari buah hasil kerja keras ayahnya.

Sebagai siasat untuk bertahan, ibunda Koum bekerja sebagai pengasuh bayi sementara Koum bekerja sebagai pesuruh di toko kelontong. Namun, skema itu tak berjalan mulus. Ibu Koum menderita kanker. Untuk menunjang kehidupannya, mereka mengandalkan uang tunjangan penyakit dari pemerintah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Namun, Koum muda terus bangkit. Dia melanjutkan studi ke bangku kuliah, di San Jose State University, kampus negeri ternama di California. Selain sekolah formal, dia mengenyam ilmu seputar teknologi informasi dan
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut