- VIVAnews/Dyah Ayu Pitaloka
Jumlah pendatang dari kelompok pelajar, menambah angka penduduk tidak tetap di Kota Malang yang diperkirakan mencapai 200 ribu orang setiap tahun. Jumlah penduduk sementara akan membengkak pada setiap akhir pekan ataupun di saat libur panjang.
Sementara itu, penduduk tetap Kota Malang saat ini mencapai 877 ribu jiwa. Di benak Thomas H Karsten, Malang sengaja didesain sebagai kota peristirahatan.
Arsitek tenar asal Belanda di era kolonial itu menata Kota Malang dengan apik, sebagai kota hunian lengkap dengan fasilitas pendukung di awal 1900-an. Satu abad lebih telah berlalu, Malang tetap diserbu pendatang untuk sekadar berlibur atau menetap.
“Malang dikelilingi gunung, dan tiga sungai. Kondisi geografis ini membuat Malang sangat layak menjadi tempat hunian secara ekologis,” kata Budi Fathony, Kepala Laboratorium Sejarah, Kritik dan Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Selasa 19 Agustus 2014.
Maka, bisnis properti pun berkembang pesat di Malang. Tak terhitung jumlah perumahan yang tersebar di penjuru Kota Malang, yang diiringi sekitar 80 hotel dan kondotel dengan 3.000 kamar yang telah berdiri hingga saat ini.
Tak mau kalah, Pemkot Malang juga selesai membangun dua rumah susun untuk menampung 196 warga yang tidak memiliki rumah layak huni pada awal 2014. Transportasi yang mudah serta beragamnya pilihan fasilitas umum yang lengkap serta berkualitas menambah pesona Malang sebagai tempat hunian.
“Tidak hanya hotel, usaha sewa indekos juga berkembang. Di wilayah Soekarno Hatta saja harga tanah per meternya bisa sampai Rp15 juta sekarang, harga sewa indekos satu bulan bisa sampai Rp1,5 juta dan itu juga ada pasarnya,” sebutnya.
Menurut dia, magnet Malang tak kalah kuat jika dibandingkan dengan Singapura, negeri seluas 137 kilometer persegi. Di Jawa Timur, Malang adalah homebase untuk kota dan kabupaten lain seperti Blitar, Kediri, Tulungagung, Batu, dan juga Kabupaten Malang. Fasilitas pendidikan dan rumah sakit yang lengkap jadi salah satu daya tarik yang dimiliki Malang.
Namun, soal transportasi menurut pakar tata kota ini, Malang masih tertinggal jauh dibandingkan Singapura. Bukan karena Singapura hanya lebih luas sekitar 20 km persegi dibanding Malang, tetapi karena penataan kota dan gaya hidup masyarakat yang berbeda.
Di Malang, Pemkot masih harus adu cepat dengan derasnya pertambahan penduduk yang masuk untuk mencari formula yang tepat mengusir ancaman macet yang semakin sering muncul.
“Jalan yang sempit sekarang harus bersaing dengan lahan parkir milik ruko yang memakan bahu jalan. Pedagang kaki lima juga semakin meluber, belum lagi jumlah kendaraan yang terus bertambah,” katanya.
Masalah yang menurut dia sangat mudah diatasi, jika melibatkan seluruh unsur warga Malang. Ada banyak komunitas dan forum yang rutin melakukan diskusi untuk wajah Malang yang lebih baik tanpa melupakan sejarah.
“Orang Malang ini sangat dinamis dan peduli dengan perkembangan wilayahnya. Dari industri persnya, akademisi hingga pengusaha, semuanya punya pemikiran dan ide kreatif untuk Malang yang lebih baik,” kata dia.
“Mereka suka pembangunan, tapi tak suka merusak sejarah, tinggal pintar-pintarnya pemerintah merangkul mereka,” katanya.