- REUTERS
![]()
Dia mengatakan, MoU akan menfasilitasi kedua negara berbagi pengalaman, keahlian dan informasi tentang bagaimana menangani masalah ini. Palanivel mengatakan ia sedang menunggu penunjukan menteri baru Indonesia untuk lingkungan sebelum mengunjungi Jakarta pada bulan November atau Desember tahun ini guna membicarakan MoU tersebut.
“Kami sedang menuju ditandatanganinya perjanjian untuk mengatasi pembakaran secara terbuka, dan berbagi pengalaman dan keahlian dalam soal kabut asap dengan Indonesia,” kata Palanivel seperti dikutip The Star, Selasa, 23 September 2014.
Remy Chao Zheng Yi berharap pemerintah Indonesia dan Singapura duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. Menurut dia, pemerintah Singapura dan Indonesia harus bahu membahu dan bekerjasama untuk menyelesaikan masalah kabut asap.
Bagi dia, penanganan kabut asap tidak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Kedua negara harus memanfaatkan hubungan baik guna menyelesaikan masalah ini. “Karena banyak perusahaan kayu dari Singapura yang melakukan pembakaran.”
Bak gayung bersambut, harapan Remy direspon oleh pemerintah Singapura. Guna mengakhiri kabut asap, Singapura telah menawarkan bantuan kepada Indonesia. Bantuan itu termasuk pesawat untuk menyemai awan agar tercipta hujan buatan dan operasi pengeboman air hingga pencitraan gambar satelit untuk mendukung upaya awal titik api dan pemadaman.
Saat ini, Pemerintah Singapura dan Indonesia juga tengah bekerja sama melalui mekanisme Kesepakatan Bersama untuk melawan kebakaran hutan dan lahan di Jambi. Kesepakatan itu merupakan kelanjutan dari MoU sebelumnya yang diteken tahun 2007.
Singapura berharap bisa segera memfinalisasi kelanjutan MoU itu dengan Indonesia. Hal itu dilakukan guna mengatasi kabut asap dan akan memberi keuntungan kepada siapa pun di kawasan ASEAN, di mana warga Indonesia, Singapura dan Malaysia ada di dalamnya. (ren)