SOROT 320

Kemilau Bisnis Batu Akik

Batu panca warna
Sumber :
  • VIVAnews/Diki Hidayat

Nus mengatakan, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No.4/M-DAG/PER/1/2014 mengenai Ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian, dijelaskan bahwa produk batuan akik dibatasi untuk perdagangan ekspor. Tetapi, untuk perhiasan dari batu akik (cincin, kalung, dan sebagainya) tidak dilarang untuk diekspor.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor perhiasan dari batu akik yang terdiri atas HS 710399 dan HS 710310, sejak 2009 hingga 2013, cenderung tidak ada aktivitas perdagangan ekspor. Kondisi ini menunjukkan perdagangan batu akik di pasar internasional memang tidak terlalu besar, atau dapat pula perdagangan batu akik yang terjadi belum tercatat oleh Badan Pusat Statistik. 

"Kondisi ini disebabkan perdagangan batu akik lazimnya dalam volume yang tidak terlalu banyak pada setiap transaksinya. Demikian pula, transaksi penjualan batu akik yang terjadi pada pameran dagang antara buyer luar negeri, di mana pada umumnya membeli beragam item dalam jumlah yang tidak terlalu banyak (hand carry)," kata Nus.

Tak bisa jadi alat investasi
Meskipun nilainya cukup fantastis, batu akik ternyata belum bisa digunakan sebagai alat investasi. Sebab, batu akik masih bersegmen terbatas dan cenderung mengikuti tren. Berbeda dengan emas yang sudah diakui internasional.

"Lagipula, tidak mudah menjualnya. Itu disesuaikan dengan demand. Misalnya, hari ini trennya batu bacan, kemudian besok trennya apa lagi," kata Euis.

Pernyataan serupa dilontarkan Nus. Kata dia, pasar batu akik masih terbatas. "Batu akik saat ini masih memiliki segmen pemakai yang terbatas. Sedangkan emas, sudah memiliki pengakuan global sebagai logam mulia yang tidak terbatas pasarnya, yang mana faktor tersebut tidak dimiliki oleh batu akik," ujarnya.

Kendati demikian, Euis mengatakan bahwa Indonesia berpotensi untuk menjadi wisata batu akik. Beberapa tahun yang lalu, ide wisata batu akik pun sempat terlontar. "Indonesia potensial banget. Setiap pulau beda-beda batunya," kata dia.

Selain itu, lanjut Euis, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang bisa merangkai batu untuk dijadikan perhiasan.

"Kekuatan kami di seni untuk merangkai batu dijadikan perhiasan. Batu akik potensi banget menjadi kekuatan ekonomi kita di pengolahan batu, pengasahan, dan desain untuk aksesori," kata dia.

Kalaupun wisata batu akik bisa terlaksana, Euis menginginkan agar kawasan tersebut bisa seperti Thailand yang punya wisata batu akik. "Bisa melihat orang mengerjakan batu dan ada tempat untuk berjualan rangka batu dan ada tempat untuk belanja," tuturnya.

Keuntungan menggiurkan
Maraknya bisnis batu akik memang membawa berkah bagi sebagian orang, tak terkecuali Ade Hermansyah (26). Ia sudah dua tahun menekuni usaha ini, terutama sejak batu akik mulai ramai. Sebelumnya, Ade hanya seorang sopir.

Kepada VIVA.co.id, sebelum menjadi perajin dan pengolah batu, ia mengaku sudah lama senang batu dan sempat belajar mengolahnya di tempat orang. “Saya tertarik menekuni pekerjaan ini, karena keuntungannya sangat menggiurkan,” ujarnya.

Menurut dia, keuntungan dari usaha batu itu bisa mencapai 90 persen dari modal. Itu juga yang membuat banyak orang tertarik "main batu", karena memang keuntungannya besar. Selain itu, batu tidak ada standar harganya.

“Jasa yang saya berikan kepada orang adalah mengolah batu yang masih bongkahan menjadi batu akik yang siap pakai," kata dia.

Prosesnya mulai dari memotong, menghaluskan hingga memoles, sehingga batu menjadi bagus dan menarik. Namun, sebelum dipotong batu tersebut harus dilihat dulu, dicek seratnya, baru dipotong sesuai alur serat kemudian digosok.

Ongkos untuk satu batu sekitar Rp25 ribu. Ongkos itu untuk mengolah batu dari bongkahan sampai menjadi batu akik siap pakai. Namun, untuk para pemain biasanya ongkosnya hanya Rp20 ribu.

Dia mengaku modal awal membuka jasa pengolahan batu akik hanya Rp50 ribu, yaitu untuk beli mesin pompa air bekas. Mesin itu, dimodifikasi menjadi pemotong batu.

“Berawal dari Rp50 ribu itu, dalam sebulan saya bisa memiliki mesin gosok dan finishing, membeli etalase hingga bisa untuk modal belanja batu dan iketnya,” kenangnya.

Dalam sehari, dia bisa mengolah batu sekitar 20 buah. Jam buka dari pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Setiap hari, pelanggannya berdatangan, jumlahnya mencapai puluhan orang. Tiap hari, selalu ramai pengunjung, meski buka di rumah dan jauh dari jalan raya.

“Setiap hari, dari jasa mengolah batu, saya bisa mengantongi uang Rp400 ribu per hari. Jika digabung, dengan hasil penjualan batu akik yang sudah jadi dan embannya bisa sampai Rp1,5 juta tiap hari," ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Kalah di Kualifikasi Piala Asia 2027, Kreator Australia Sindir Timnas Indonesia U-20: Mereka Tidak Paham Sepak Bola
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut