SOROT 326

Haesanmul Gansig, Si Bakso Korea

Camilan laut Haesanmul Gansig
Sumber :
  • Dok. Haesanmul Gansig

VIVAnews – Laki-laki 48 tahun itu sangat gesit melayani pembeli. Sesekali dia berlari ke dalam warung, menuju deep fryer.  Tiga bakso ditusuk, mirip sate, lalu dimasukkan dalam minyak panas, setelah agak cokelat, tusukan itu diangkat lalu ditiriskan. Seorang karyawan lain menyiramkan saos, dan membungkusnya.

Di depan warung, puluhan anak-anak usia belasan tahun sudah mengantre. Mereka ingin dilayani secepatnya. Tak ada yang mau menunggu lama.

Bakso ikan tusuk itu merupakan salah satu makanan ringan favorit di Haesanmul Gansig, warung penganan ala Korea Selatan. Gerainya khas, serba merah. Semua makanannya dibungkus elegan.

Goenardjoadi Goenawan, nama laki-laki 48 tahun itu. Dia yakin demam Korea bisa membawa untung. Menurutnya, demam Korea buka cuma soal musik, film, gaya hidup, atau fesyen. Makanan juga. "Kalau kami tidak mengikuti kiblat ini, ya tutup warung," kata Goenardjoadi.

Dia merupakan pendiri Haesanmul Gansig. Secara harfiah, Haesanmul Gansig adalah seafood snack. "Itu kalau menurut Google Translate," katanya sambil tertawa.

Tapi, meski bernama Korea, Haesanmul Gansig, 99 persen asli Indonesia. Hanya 1 persen saja yang dari Korea: bumbu tertentu. Ini supaya menjaga rasa tetap seperti asli Korea.

Ide Sederhana
Ihwal gerai ini sangat sederhana. Saat bekerja di Lotteria, sebuah restoran Korea, Goenardjoadi mendapat tawaran pesanan jajanan anak-anak dengan harga tak lebih Rp10 ribu. Beberapa tempat makan cepat saji menolak pesanan ini. Lotteria pun tak sanggup membuat makanan siang anak-anak untuk field trip ini.

img_title Ini Ragam Pilihan Bisnis Waralaba dengan Modal Rp3 Juta
Goenardjoadi Goenawan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Goenardjoadi Goenawan, pendiri Haesanmul Gansig
img_title Merek Dikuasai Pihak Lain, IKEA Alam Sutera Tetap Buka

Bagi Goenardjoadi, kebuntuan itu menjadi peluang. Informasi pesanan ini meletupkan ide berbisnis. “Ini kesempatan,” kata lulusan Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor itu.
img_title Bisnis Quick Chicken Pratikkan Filosofi Jenderal Sudirman


Setelah itu, dia keliling mencari bahan makanan murah dan sehat, yang memungkinkan diolah tak melebihi angka itu. Pencariannya nyaris buntu. Ayam, daging, dan  sayuran, semua mahal, tak mungkin dikemas jadi makanan di bawah Rp10 ribu.

Pikirannya berubah saat tempat pelelangan ikan. Ada ikan yang murah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Tapi apakah anak-anak suka? Belum tentu. Dia memutar otak lagi. Akhirnya ditemukan bakso ikan dan bakso lain yang berbahan dasar makanan laut. “Ini harganya juga murah, tapi belum begitu terkenal,” katanya.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut