- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
![]()
Sekolah ini dibangun secara swadaya. Tak ada sepeser pun uang pemerintah ada di sini. Foto: VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
SMP Al Bayyan
Sambil menunggu bangunan sekolah itu rampung, siswa-siswi sekolah terpaksa menuntut ilmu di saung yang didirikan orangtua mereka. Puluhan remaja berseragam putih biru tampak khusyu. Mereka duduk melingkar menghadap meja kayu berbentuk bundar. Di depan mereka, seorang guru sedang menjelaskan tentang Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Ya, ruangan sempit berdinding anyaman bambu dan berbentuk panggung ini merupakan ruang kelas sementara siswa kelas 3 SMP Al Bayyan, sekolah besutan warga. Tak ada yang istimewa di ruang kelas ini. Hanya ada papan tulis dan meja tanpa kursi. Namun, anak-anak ini tampak antusias belajar konstitusi.
Tak berselang lama. Anak-anak ini berhamburan ke luar ruangan. Mereka langsung menuju kebun yang tepat berada di depan ruang kelas. Salah satu dari mereka tampak membawa cangkul dan langsung bekerja. Sementara yang lain menanam sejumlah benih sayuran. Beberapa di antaranya menyiangi rumput. Ada beragam tanaman di kebun yang tak seberapa luas ini. Ada cabe, daun bawang, selada, kacang panjang, pepaya juga sawi. Siang itu, siswa SMP Al Bayyan belajar pertanian.
"Jarak tanam harus benar ya. Jangan lupa sediakan saluran air di sela-sela tanaman," ujar Deni (24), guru mata pelajaran pertanian kepada anak didiknya yang asyik bekerja. Tak lupa Deni juga meminta agar mereka menggemburkan tanah dan memupuk tanaman secara benar. "Gunakan pupuk organik ya. Agar kita tidak merusak alam," ujarnya menambahkan.
Deni merupakan, satu dari 23 guru yang mengajar di SMP Al Bayyan. Ia mengajar sejak sekolah ini berdiri. Ia tak menerima gaji, honor apalagi tunjangan. Sebaliknya, Deni harus merogoh koceknya untuk mengisi tangki motor jika hendak mengajar. Sebab, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu jam jika hendak ke sekolah ini.
Ia mengaku memilih mengajar di sekolah ini meski ditawari mengajar di sekolah lain dengan iming-iming gaji dan beragam tunjangan. Alasannya, ia ingin membangun desa dan membantu pendidikan anak-anak tak mampu. “Saya pernah merasakan bagaimana sulitnya mengakses pendidikan,” ujar lulusan MTs Sururon ini dengan berkaca-kaca.
Ia mengatakan, MTs Sururon tempatnya mengenyam pendidikan tak menarik biaya sepeser pun dari siswa. Selain itu, di sekolah tersebut ia dididik untuk mengembangkan desa dan perduli dengan sesama. Karenanya, ia merasa bertanggung jawab dengan pendidikan anak-anak petani desa yang tak mampu dari segi biaya. "Komitmen saya membangun desa dengan memajukan pendidikan," ujar sarjana pertanian ini menambahkan. Dua kali dalam sepekan Deni datang ke SMP Al Bayyan. Untuk menutupi kebutuhan harian, ia mengerjakan sejumlah penelitian.
Deni tak sendiri, Ridwan Saefudin (43) juga tak menerima upah dan gaji. Guru yang merangkap kepala sekolah ini hampir datang tiap hari ke sekolah dengan biaya sendiri. Mantan rocker yang biasa disapa Inceu ini merupakan salah satu pendiri sekolah setingkat SMP yang concern pada pertanian ini. Ia mengatakan, SMP Al Bayyan merupakan hasil kerja keras warga secara swadaya. "Tujuannya untuk membangun kemandirian desa," ujarnya menjelaskan.
Selain kurikulum pemerintah, SMP Al Bayyan juga mengembangkan kurikulum sendiri yang menekankan pada pertanian. Hal ini dilakukan agar para siswa memiliki kemampuan bertani. Seperti ‘kakak’nya, MTs Sururon, sekolah ini juga menekankan agar siswa mengembangkan desa. "Mereka boleh sekolah setinggi langit, tapi mereka harus kembali untuk membangun desanya."
Rohaini, salah seorang siswi kelas 3 SMP AL Bayyan mengatakan, sekolahnya berbeda dengan sekolah lain. Menurut dia, siswa bisa lebih dekat dengan guru. Selain itu, ia mendapatkan banyak pengetahuan dan keterampilan tentang pertanian. Ia tak malu meski sekolahnya jelek dengan fasilitas terbatas. "Untuk apa sekolah megah jika tak berguna bagi masyarakat," ujar anak yang bercita-cita menjadi petani ini. Seperti siswa lain, keinginan Rohaini sederhana. Ia hanya ingin membela dan memimpin masyarakat.