SOROT 330

Tentara Bersenjata Twitter

Serangan udara tentara Israel di Jalur Gaza
Sumber :
  • REUTERS/Majdi Fathi

img_title UU Polri Digugat ke MK, Persoalkan Satpam Jadi Kewenangan Kapolri

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Konflik Israel-Palestina merupakan persoalan yang rumit, namun ada satu kesamaan tema, yaitu kedua pihak mencari simpati dunia dan media sosial menyediakan fasilitas untuk mencapainya.
img_title Daftar 16 Negara yang Lolos ke Piala Asia U-20 2027: Indonesia Usir Juara Bertahan, Vietnam Terdegradasi


img_title Jembatan Darat Pertama Penghubung Rusia-Korea Utara Diresmikan, Diberi Nama Perwira Soviet yang Selamatkan Pendiri Korut
Perang opini antara IDF dan Hamas, telah menjadi contoh nyata tentang bagaimana lapangan pertempuran menjadi lebih luas, bagaimana media sosial menjadi arus utama dalam perang modern.

"Hari ini di Timur Tengah, ada lebih banyak orang dengan internet dan komputer. Ini seperti tsunami," kata Orit Perlov, analis media sosial untuk Institut Studi Keamanan Nasional yang berbasis di Israel.

Penyebaran Informasi

Perlov mengatakan saat ini banyak orang memiliki telepon selular (ponsel) pintar, dengan kemampuan memotret serta merekam video dengan kualitas tinggi, lalu langsung mengunggahnya di internet.

"Sepuluh tahun lalu teknologi itu hanya ada di tangan militer atau negara. Hari ini banyak orang memilikinya di kantung mereka," ucap Perlov. Orang tidak perlu lagi menunggu media massa untuk memperoleh informasi.

Media sosial telah menjadi senjata alternatif militer, sejak penyerbuan Israel ke Jalur Gaza pada 2008-2009. Ketika itu IDF melarang jurnalis internasional masuk ke Gaza.

IDF membantah tuduhan terjadinya pembantaian warga sipil di Palestina, namun sebesar apa pun upaya Israel untuk menyembunyikan informasi, mereka menemui kegagalan.

Sebab dari dalam Palestina, warga serta militan Hamas menawarkan informasi tentang perkembangan situasi yang terjadi di internet, menyebar foto-foto dan rekaman video melalui media sosial.

"Militer Israel tidak lagi dapat memanipulasi informasi seperti yang biasanya mudah mereka lakukan," kata Maath Musleh, dosen Universitas AlQuds di Yerusalem.

Maath menambahkan, tentang menyebar informasi, jaringan Palestina di Twitter telah melakukan pekerjaan yang hebat, menjadi sumber media luar tentang situasi yang terjadi di dalam Palestina.

Investasi Besar

"Sejak saat ini IDF telah menanam investasi besar dalam operasi media sosial," kata Rebecca Stein, profesor antropologi budaya dari Universitas Duke yang mempelajari penggunaan media sosial oleh IDF.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Saat IDF mulai melakukan operasi secara serius di media sosial, Desember 2009, mereka memulainya dengan beberapa video di YouTube. Kini pasukan media sosial IDF menangani hampir 30 basis media dalam enam bahasa.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut