Sumber :
- REUTERS/Majdi Fathi
Masa Depan
Baca Juga
Serangan dalam jaringan ditujukan untuk menjangkau orang-orang secara langsung, tanpa melalui media tradisional sebagai panyalur informasi. Sejauh mana itu efektif, masih harus diteliti.
"Media sosial adalah zona perang bagi kami di Israel. Di sini (media sosial) kami bisa melakukan kampanye, memutuskan apa yang akan jadi judul utama, serta foto dan rekaman video apa untuk diunggah," kata Leiboovich.
Dibentuknya Brigade 77 oleh Inggris, mengikuti apa yang dilakukan Israel, menjadi simbol pengakuan bahwa kekuatan senjata dan tentara, bukan lagi satu-satunya alat yang dibutuhkan dalam perang modern.
Perang di Palestina, Afghanistan dan Irak, memperjelas pentingnya memenangkan hati dan pikiran, dengan merekonstruksi cara peristiwa disampaikan pada masyarakat dunia.
Kini kekuatan media sosial sebagai bagian dari perang psikologis, telah dimanfaatkan banyak pihak. Kelompok teroris seperti ISIS di Irak dan Suriah pun telah menguasai propaganda melalui media sosial.
Mereka telah menggunakannya untuk menarik simpatisan, bahkan merekrut pendukung yang secara sukarela bergabung dengan mereka di Irak dan Suriah, serta membentuk jaringan di berbagai negara.
Membungkam informasi tidak lagi dapat digunakan menjadi cara mencegah radikalisasi, karena internet telah menjadi saluran yang sangat terbuka. Penutupan akun Facebook atau Twitter milik seorang teroris bukan solusi. (ren)
Oleh-oleh Jokowi dari Gudangnya Pakar IT
Ingin bangun ekonomi kerakyatan berbasis digital.
VIVA.co.id
19 Februari 2016