SOROT 333

Cuaca Makin Ekstrem, Bencana Kian Sering

Ilustrasi/Pemotor melintasi banjir Jakarta
Sumber :
  • REUTERS/Darren Whiteside

img_title Hutan, Perubahan Iklim, dan Pembangunan Berkelanjutan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dengan berubahnya iklim maka bencana-bencana tersebut akan meningkat," kata Sutopo, kepada
img_title Indonesia Hanya Jadi Pengekor Negara Maju di COP 21 Paris
VIVA.co.id, Kamis 27 Februari 2015.
img_title KB Dinilai Solusi Tepat Kurangi Dampak Perubahan Iklim


Bencana di Jakarta dan sekitarnya, kata Sutopo, juga didominasi dampak dari perubahan pola hujan yang intensitasnya makin tinggi. Tahun 2013, 2014 dan 2015, curah hujan harian di Jakarta mencapai lebih dari 350 mm per hari.

Curah hujan itu setara dengan angka curah dua atau tiga minggu rata-rata Indonesia. Artinya, di Jakarta, hujan tiga minggu dijatuhkan dalam sehari. Masuk akal jika banjir kerap terjadi di Jakarta.

Tapi Sutopo buru-buru menambahkan, faktor utama banjir di Jakarta bukan hanya curah hujan. "Faktor utama banjir Jakarta lebih disebabkan oleh ulah manusia seperti permukiman di bantaran sungai, tata ruang yang buruk, degradasi lingkungan, sampah dan lainnya.”

Sinyal perubahan iklim memang bisa dilihat dari perubahan cuaca yang tergolong esktrem. Perubahan ini bisa dilihat dari masa musim yang lebih panjang maupun lebih pendek dibandingkan waktu yang sama puluhan tahun lalu. Suhu udara rata-rata juga meningkat.

Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain, mengatakan sinyal perubahan iklim yaitu adanya curah hujan ekstrem atau iklim ekstrem. Kondisi ini misalnya musim panas terlalu panjang, sementara jika musim hujan maka curahnya ekstrem.

Zulkarnain berteori, bencana banjir yang melanda Indonesia bisa saja didorong dampak perubahan iklim. Misalnya, kata dia, suatu daerah tidak pernah banjir, kemudian tiba-tiba dilanda banjir. Curah hujan yang ekstrem bisa memicu banjir karena saluran air baik itu sungai, kanal, drainase, tak cukup memadai menampung curah yang lebih banyak.

"Artinya, bencana-bencana iklim sangat erat dengan perubahan iklim ini," ujar Zulkarnain saat dihubungi melalui telepon.



BMKG: Fluktuasi Wajar
Namun Raden Mulyono Rahadi Prabowo, Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), berpendapat siklus cuaca saat ini memang fluktuatif, tapi wajar. Memang ada fenomena variabilitas cuaca tiap hari yang tinggi; hari ini hujan, hari berikutnya cerah, dan lusanya cuaca berubah lagi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Tapi BMKG menolak anggapan fluktuasi cuaca itu akibat dampak perubahan iklim. Fluktuasi itu masih dalam tahap wajar. Raden Mulyono mengatakan fluktuasi cuaca yang tinggi bisa juga karena posisi Indonesia yang berada di daerah tropis.
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut