- REUTERS/Darren Whiteside
Belum lagi, geografi Indonesia yang berpulau-pulau diapit samudera-samudera besar. BMKG pun kesulitan menempatkan jaringan pengamatan di semua titik strategis.
Mulyono menegaskan prediksi cuaca BMKG tak mungkin presisi sepenuhnya alias 100 persen benar. BMKG mengukur kualitas prediksi cuacanya sekitar 80-90 persen. "Sedang jika pada masa ketika fluktuasi cuaca tinggi biasanya menurun hanya mencapai 70-80 persen keakuratannya seperti musim hujan saat ini," jelasnya.
Standar teknologi BMKG, kata dia, sudah cukup, sesuai dengan standar internasional. “Alat kita sama seperti yang dipakai di negara-negara lain," katanya.
Gerakan Global
Namun, bagi Greenpeace, dunia saat ini sudah menghadapi perubahan iklim. Arif Fiyanto, Koordinator Tim dan Kampanye Energi dan Iklim Greenpeace Indonesia, menyampaikan, adaptasi atas perubahan iklim mendesak, karena berbagai dampak perubahan iklim sudah mulai dirasakan di beberapa wilayah Indonesia. Upaya mitigasi belaka tak cukup, menurut Greenpeace.
Perubahan iklim diawali dengan kenaikan temperatur bumi, mencairnya tudung es di kutub, meningkatnya suhu lautan, kekeringan berkepanjangan, penyebaran penyakit wabah berbahaya, banjir besar, dan gelombang badai besar.
Situs Greenpeace menyebutkan aktivitas pelepasan karbondioksida ke atmosfer dengan menggunakan bahan bakar fosil berdampak pada selimut alami dunia. Akibatnya suhu iklim dunia makin naik karena sinar matahari tidak dapat dipantulkan kembali dari permukaan bumi.
Menurut data panel ahli internasional untuk mengkaji aspek-aspek ilmiah tentang perubahan iklim (PICC), mengutip situs WWF Indonesia, kenaikan temperatur global semenjak tahun 1901 mencapai 0,89 derajat celcius. Di kawasan Asia tenggara, kenaikan temperatur kisaran 0,4 hingga 1 derajat celcius. Kenaikan di wilayah ini untuk jangka menengah (2046-2065) mencapai 1,5-2 derajat celcius.
Kenaikan temperatur paling tinggi terkonsentrasi di di daerah-daerah bagian Barat Laut yaitu di negara-negara seperti Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Untuk jangka panjang (2081-2100), kenaikan temperatur akan berada di rentang 2-4 derajat celcius yang akan menyebar ke seluruh daratan secara merata.
Sayangnya, kata Arif, Indonesia belum serius melakukan pencatatan data terkait perubahan iklim ini. Tanpa data, sangat sulit untuk menyusun peta kerentanan dampak-dampak dari perubahan iklim, dan strategi nasional untuk mengatasi perubahan iklim.
Adaptasi dan Intervensi Teknologi
LIPI pelan-pelan mengumpulkan data terkait perubahan iklim. Ketua LIPI Iskandar Zulkarnain mendesak pemerintah lebih menggalakkan adaptasi atas perubahan lingkungan itu. Fakta perubahan iklim tak bisa ditolak, sudah terjadi secara global.
Adaptasi itu, kata dia, untuk menekan risiko pada masyarakat yang berpotensi mengalami kerugian atas perubahan lingkungan yang makin tak menentu itu. Ia mencontohkan, untuk nelayan, pemerintah sebenarnya bisa menyiapkan teknologi budidaya ikan.
"Nah itu bentuk dari adaptasi, kita tidak melawan alam, tetapi kita melakukan intervensi teknologi, supaya kemudian pertanian kita bisa tahan menghadapi perubahan iklim. Jadi, kuncinya itu adalah adaptasi terhadap perubahan iklim itu," katanya.
Pemerintah juga diminta untuk gencar memantau variabilitas iklim agar antisipasi perubahan iklim bisa lebih baik. Keakuratan prediksi cuaca bisa menjadi panduan mengantisipasi cuaca ekstrem. Ya, iklim berubah, manusia pun harus siap berubah menghadapinya. (aba)