- VIVA.co.id/Tasya Paramitha

Sang Pelopor
Tren Kongko di Pasar Santa ini tak terlepas dari peran A Bunch of Caffeine Dealers (ABCD) School of Coffee. Kios ini salah satu yang pertama buka di area food court, lantai paling atas, Januari 2013.
Sang pemilik, Venerdi Handojo, mengatakan bahwa Januari 2013 itu, ia mencari tempat latihan para barista untuk belajar membuat kopi.
"Kita memang butuh tempat workshop, sehingga waktu menemukan tempat ini di pusat kota, sewanya murah terus sepi, jadi malah senang. Buat sekolah dan belajar jadi enak. Nyaman dan bersih," kata pria yang biasa disapa Ve itu saat ditemui akhir Februari lalu.
ABCD Coffee dijadikan school of coffee yang menjadi tempat hangout para barista atau tempat melatih barista. Selain meladeni yang belajar kopi, banyak pula konsumen yang lantas ingin belajar seluk beluk perihal kopi. Mereka lalu membuka kesempatan bagi para penikmat kopi untuk datang dan ikut berdialog dengan para barista.
Ve yang berprofesi sebagai penulis itu juga mengungkapkan bahwa sejak awal melihat kios di sana, ia sudah meramalkan Pasar Santa akan menjadi ramai. "Bukan karena kitanya (ABCD Coffee), tapi nggak ada alasan Pasar Santa nggak ramai. Lokasi enak, biaya sewa affordable, bersih dan nggak ada preman. Kenapa nggak ramai? Kenapa sepi selama 7 tahun? Cuma satu permasalahannya, karena nggak ada yang mengasih tahu," ujar Ve.
Sejak Juni 2014 lalu, Ve mengatakan, ABCD Coffee memiliki program yang dinamakan #ngopidipasar. Ini merupakan acara ngopi yang diumumkan lewat akun media sosial Instagram mereka, @abcd_coffee. Di acara itulah Ve menawarkan orang-orang yang datang untuk melihat-lihat Pasar Santa.
Sejumlah pengunjung mengantre di sebuah kedai di Pasar Santa, Jakarta. Foto: VIVA.co.id/Tasya Paramitha
"Waktu itu sepi. Kita suruh orang keliling lihat-lihat," ucap salah satu penulis naskah film layar lebar Rectoverso itu.
Seperti efek domino, satu-satu kios yang kosong itu pun disewa. Jika Juni cuma ada tiga kios yang buka di lantai dua, di bulan Juli, semua kios sudah penuh disewa. Setelah Lebaran, mulai muncul penyewa-penyewa baru hingga ramai seperti saat ini.
"Jadi memang banyak orang yang datang tujuannya cuma ngopi, pas tahu kosong dan harganya murah mereka langsung ke kantor development untuk menyewa. Kalau ramai, pedagang yang di bawah kan juga pasti happy karena makin banyak traffic," ujar dia.
Selain tenant-tenant baru yang menawarkan berbagai dagangan unik kepada para pengunjung pasar, sejumlah acara juga selalu digelar tiap akhir pekan untuk menarik lebih banyak pengunjung. Acara musik, seni budaya hingga pertunjukan balet diselenggarakan di lantai dasar pasar yang kini telah menjadi semacam ruang kreatif bagi berbagai komunitas seni di Jakarta.
Petualangan Kuliner
Kini Pasar Santa selalu ramai dikunjungi orang. Sabtu atau Minggu, pengunjung bisa membeludak seperti laiknya Pasar Tanah Abang di kala menjelang Lebaran.
Jika sudah sore, tempat parkir di pelataran pasar pun selalu dipenuhi kendaraan pribadi. Lantai dua atau food court pasar menjadi tempat yang paling ramai. Di sanalah kios-kios khas anak muda berdiri, mulai dari kedai kopi, kios makanan, kios yang menjual pakaian distro, barber shop hingga kios yang menjual vinyl atau piringan hitam.
Semakin malam, pengunjung tampak enggan untuk meninggalkan tempat ini. Justru semakin banyak yang berdatangan. Ada karyawan yang baru pulang kerja dengan pakaian rapi, ada pula anak-anak muda yang bergaya santai hanya dengan celana pendek dan sandal jepit.
Petualangan kulinerlah yang menjadi daya tarik Pasar Modern Santa ini. Gaungnya makin kuat karena dipromosikan dengan kekuatan media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram.