SOROT 337

Menyisir ISIS

Ilustrasi Senjata.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dyah Ayu Pitaloka



Kelompok Lama Berhimpun

Zaki Mubarok dalam makalah berjudul “Gerakan Islam Radikal Indonesia Kontemporer” menyatakan, ISIS terbentuk pada  3 Januari 2014. Mereka mendeklarasikan kekhalifahan pada 29 Juni 2014 dengan sang khalifah, Abu Bakr al-Baghdadi. Ideologinya dicirikan sebagai  salafi jihadi, wahabisme, kekhalifahan, serta sikap anti-Syiah yang kuat.

“Di Indonesia, respons (dukungan) gerakan garis radikal terhadap ISIS sangat cepat,” kata peneliti gerakan Islam radikal dari UIN Syarif Hidayatullah ini. Menurut pengamat terorisme, Nasir Abbas, respons cepat itu berkat bantuan teknologi informasi.

Setelah ISIS mendeklarasikan khilafah Islamiyah pada 29 Juni 2014, seminggu kemudian ratusan orang di Indonesia, dengan bendera FAKSI, tanggal 6 Juli 2014 menyatakan baiatnya kepada kekhalifahan ISIS. Peserta berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat, Banten, Lampung dan Riau. Bunyi baiat yang dipimpin Abu Zakariyya itu adalah, “Saya berbaiat kepada amirul mukminin Abu Bakar al Baghdadi al Quraysi untuk mendengar dan taat kepada kondisi susah dan mudah. ... Serta saya, tidak akan merampas kekuasaan dari pemiliknya kecuali saya melihat kekafiran yang nyata, yang saya memiliki dalil yang nyata di dalamnya dari Allah.”

Dalam waktu yang tidak  berapa lama, sejumlah ormas Islam di Solo, Jakarta, Bekasi, dan Bima  juga menyatakan baiatnya secara demonstratif. Di Bekasi, deklarasi dilakukan perkumpulan yang menamakan diri Kongres Umat Islam.

Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara As'ad Said Ali mengungkapkan, jaringan ISIS di Indonesia merupakan gabungan aktivis dari sejumlah kelompok radikal yang sebelumnya ada. "Di Indonesia, sudah dibentuk JAD atau Jamaah Ansharut Daulat," kata As'ad.

JAD terdiri dari beberapa faksi seperti sempalan dari Jamaah Ansharut Tauhid di luar pimpinan Abu Bakar Ba'syir, kelompok Maman Abdurahman, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso, dan kelompok Al Mujahirun yang merupakan sempalan dari kelompok Hizbut Tahrir.

img_title Mendagri Tito Dorong Penguatan Penggunaan Soft Approach dalam Mencegah Ekstremisme dan Terorisme

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Saud Usman Nasution mengatakan, lebih dari 10 organisasi yang mendukung ISIS. Saud mengungkapkan, bentuk dukungan mereka terhadap ISIS dilakukan dalam berbagai bentuk, di antaranya dukungan finansial, penyebaran paham, hingga rekrutmen personel. Salah satu organisasi itu, sebut Saud, pernah mengibarkan bendera ISIS dalam unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia tahun 2014.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut