- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di kelurahan ini juga sebagian besar melibatkan siswa Sekolah Perempuan. Kelurahan juga melibatkan siswa Sekolah Perempuan untuk ikut Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) yang digelar kelurahan.
Ia mengakui, masyarakatnya sekarang lebih maju dengan keberadaan Sekolah Perempuan. Sebelumnya, para perempuan ini hanya sibuk dengan urusan domestik.
Tapi sekarang mereka sudah pintar karena belajar berbagai macam pengetahuan. Selain itu, warga juga sudah mampu mengidentifikasi setiap persoalan yang terjadi dan bagaimana mencari solusinya.
“Ketika ada masalah atau konflik, warga sudah tahu bagaimana cara mengatasinya.”
Pernah Konflik
Sekolah Perempuan di Pondok Bambu hanya salah satu dari sejumlah sekolah serupa di berbagai kota. Direktur AMAN Indonesia Dwi Rubiyanti Kholifah mengatakan, tujuan didirikannya Sekolah Perempuan adalah memperkuat relasi dan kohesi sosial di masyarakat melalui peran perempuan.
"Jika masyarakat memiliki kohesi yang kuat, perdamaian akan tercapai," kata Dwi.
Sekolah Perempuan pertama berdiri pada Agustus 2007 di Jakarta. Seiring waktu sekolah serupa berdiri di Bogor, Poso, dan Tasikmalaya. Saat ini AMAN sedang menyiapkan pembukaan sekolah serupa di Sampang, Jember, Jawa Tengah dan Yogyakarta.
“Saat ini yang efektif beroperasi adalah empat sekolah perempuan di Poso, satu di Jakarta, satu di Bogor dan satu di Desa Cipasung, Tasikmalaya,” ujar Dwi.
AMAN tak sembarangan dalam memilih lokasi untuk Sekolah Perempuan. Sebuah wilayah layak didirikan sekolah jika memenuhi sejumlah kriteria, di antaranya pernah mengalami konflik.
Selain itu, wilayah tersebut berpotensi mengalami konflik terbuka, hubungan sosial yang kurang harmonis serta tingginya perbedaan atau keberagaman dalam masyarakat.
Perempuan yang akrab disapa Rubi ini mengaku, sekolah yang ia dirikan terinspirasi dari Kapal Perempuan dan Urban Poor Concorcium (UPC).
AMAN berusaha menggabungkan model yang dilakukan dua lembaga tersebut, yakni pendidikan dan pengorganisasian sebagai strategi perubahan sosial di masyarakat.
Perempuan dipilih, karena di banyak konflik kekerasan mereka banyak menjadi korban. Selain itu, perempuan banyak mengalokasikan waktu di komunitas sehingga memungkinkan untuk bisa terlibat secara aktif dalam proses perdamaian.