- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Ia tak menampik, perempuan rawan menjadi korban kekerasan. Menempatkan perempuan sebagai agen perdamaian memang beresiko dan rentan.
Suasana belajar mengajar di Sekolah Perempuan untuk Perdamaian di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Foto: VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Namun, proses transformasi dari korban ke survivor melalui proses forgiveness bagi daerah yang pernah terjadi konflik merupakan langkah penting agar perempuan dari keluarga korban dan keluarga pelaku bisa menyudahi konflik dan membuka babak baru dengan bekerja sama.
Sekolah Perempuan juga menjadi wadah untuk berbagi kegelisahan, meski tak menyediakan solusi. Karena, kadang yang diperlukan bukan solusi tapi dukungan untuk seseorang bisa dealing dengan masalah yang ada.
“Perempuan sangat memiliki power untuk memastikan suami dan anak mereka tidak terlibat dalam kekerasan,” ujar Rubi.
Selain itu, berbekal pengetahuan analisis konflik dan perdamaian membuat para perempuan yang terlibat dalam Sekolah Perempuan selalu hati-hati dalam mencerna segala bentuk hasutan untuk menyerang kelompok minoritas.
Ia mencontohkan yang dilakukan peserta Sekolah Perempuan di Bogor. Saat mendengar isu Kristenisasi, mereka langsung melakukan investigasi dan berdialog dengan pihak-pihak terkait, terutama para pengambil keputusan di level paling bawah.
“Tradisi dialog ini yang pertama dilakukan. Karena, selama ini pendekatan penyelesaian masalah lebih bersifat individu.”
AMAN berharap, Sekolah Perempuan benar-benar menelurkan para perempuan yang tangguh. Yakni, perempuan yang mampu menjadi pemimpin, memiliki kepekaan terhadap konflik, skill leadership yang kuat, dan lincah berorganisasi.
Hari menjelang sore. Jam di dinding sudah menunjuk angka 3.30.
Proses belajar mengajar di sekolah ini pun disudahi. Tapi tak selesai sampai di situ. Karena masih ada agenda lain hari itu, yakni arisan.
Sejumlah perempuan pun langsung beringsut ke tengah untuk mengetahui siapa yang beruntung hari itu. Setelah prosesi ini selesai, mereka pun pulang satu demi satu.
Hanya tersisa beberapa orang yang terlihat masih asyik berbincang. Pekan depan, mereka akan kembali ke tempat ini, untuk kembali belajar dan berdiskusi.
Dengan materi dan tema yang berbeda, namun ujungnya sama, mencipta damai untuk semesta. (ren)