- ANTARA/R. Rekotomo
Kedua adalah kekerasan ekonomi seperti masalah seputar ekonomi dan tidak tanggung jawab yang mencapai 46 persen. Ketiga adalah kekerasan fisik semacam kekejaman jasmani dan cacat biologis yang mencapai 3 persen.
![]()
Mariana Amiruddin berorasi dalam salah satu aksi demonstrasi. Foto: facebook.com/mariana.amiruddin
Menurut Komnas Perempuan, meski data tidak memunculkan kategori kekerasan seksual, jika dicermati lebih dalam sejumlah kategori dapat mencakup kekerasan seksual, seperti tidak ada keharmonisan, kawin paksa, kawin di bawah umur, poligami tidak sehat, dan data lain-lain.
Itu baru kekerasan terhadap perempuan yang bersifat atau terjadi di lingkungan keluarga. Belum kekerasan yang terjadi di ranah publik, seperti kekerasan berbentuk intimidasi dalam pemilu atau pemilukada, kekerasan dalam peristiwa yang berhubungan dengan intoleransi, kekerasan dalam lembaga pendidikan, kekerasan dalam konflik sosial, dan lain-lain.
Menurut Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, pada dasarnya perempuan cenderung menghindari konflik. Tapi, perempuan sering menjadi korban dalam banyak sektor, termasuk korban dalam konflik sosial seperti kerusuhan.
“Secara kultural, perempuan dibiasakan mengasihi, merawat, mengasuh, dan itu sifat-sifat yang mendamaikan bagi banyak orang,” kata Mariana kepada VIVA.co.id di Jakarta, Kamis, 2 April 2015.
Mariana menjelaskan, dalam banyak konflik sosial-politik, perempuan tidak banyak terlibat --meski justru sering menjadi korban-- tapi merekalah yang memelopori perdamaian. Dia mencontohkan dalam konflik sosial bernuansa agama di Poso, Sulawesi Tengah, pada medio 1998 sampai 2000, dan kerusuhan di Ambon, Maluku, pada 1999 dan 2011.
Saat para lelaki atau suami berperang atau saling bunuh, para ibu rumah tangga bermacam latar belakang agama yang justru mula-mula menyuarakan perdamaian.
Para ibu mencemaskan keselamatan keluarga masing-masing. Terdesak juga kebutuhan ekonomi yang terancam krisis karena para lelaki atau suami lebih sibuk berperang ketimbang bekerja demi menafkahi istri dan anak-anaknya.
“Mereka menyuarakan apakah tidak capai berperang. Akhirnya para tokoh agama perempuan maju, mereka menyuarakan untuk apa berperang, tidak capai apa, dan tidak peduli apa dengan keluarga dan anak. Apa tidak ada yang lebih baik selain perang,” kata Mariana.
Karakter dasar yang sama pada perempuan, menurut Mariana, juga bisa menjadi semangat perlawanan terhadap kekerasan atau kesewenangan. Unjuk rasa menolak penggusuran, biasanya perempuan yang di barisan terdepan. Demonstrasi kenaikan harga kebutuhan pokok, pasti perempuan yang kali pertama berhadapan dengan polisi.
Begitu juga pada unjuk rasa penolakan pembangunan pabrik semen di Rembang. Kaum ibu dan perempuan yang paling depan, serta bentrok dengan aparat.
Mariana menilai, perempuan akan berjuang sekuat tenaga dan apa pun risikonya manakala menyangkut keselamatan keluarga atau desakan kebutuhan ekonomi keluarga. Perempuan merasa dua hal itu ialah bagian utama kehidupannya, karena mereka tak memiliki kekuasaan publik seperti laki-laki.
“Sepanjang urusan rumah, mereka akan galak, egois sekali. Kebanyakan perempuan jika soal dapur, rumah tangga diganggu keberlangsungannya, mereka akan sangat marah, itu harga hidup mereka. Itu jika diambil, habis hidup dia karena di sanalah hidup mereka,” kata Mariana.
“Sama dengan sifat alami hewan. Kalau induk-induk hewan diganggu sarangnya, mereka akan sangat buas. Secara naluri akan mempertahankan itu,” dia menambahkan.
Peran Perempuan
Sayangnya, upaya perempuan dalam memperjuangkan haknya atau mencegah kekerasan dalam bentuk apa pun terhalang banyak hal, mulai budaya patriarki, sistem hukum yang bias gender, sampai sistem sosial-politik yang merugikan. Penyebabnya adalah mereka kurang memiliki akses terhadap kekuasaan sehingga tak maksimal mengubah kebijakan.
Semua masalah itu sumbernya adalah banyak perempuan tak mendapatkan pendidikan yang baik, sehingga tak mandiri secara ekonomi, tergantung pada laki-laki.
Upaya perempuan untuk mengubah sebuah kondisi yang menindasnya harus dua kali lebih keras dibanding laki-laki.