- ANTARA/R. Rekotomo
“Harus kencang sekali suaraya agar bisa didengar. Seperti Margareth Thatcher (mantan Perdana Menteri Inggris yang dijuluki Wanita Besi), yang di-bully laki-laki. Jika ia tidak keras berbicara, ia tidak akan didengar. Keras bersuara juga harus ada isinya (berbobot),” kata Mariana.
Belakangan memang sudah banyak perempuan yang menduduki posisi strategis yang bersifat publik, misalnya, menjadi kepala daerah, menteri, tokoh masyarakat, hingga aktivis sosial. Fenomena itu cukup menguntungkan bagi perempuan, karena mereka memiliki kewenangan atau akses untuk mengubah kebijakan.
![]()
Bonar Tigor Naipospos memberikan keterangan pers di kantor Setara Institute, Jakarta. Foto: ANTARA/Reno Esnir
“Dalam banyak studi memang memperlihatkan perempuan bisa memainkan perannya dalam konflik sosial dengan mengedepankan dialog, peran keibuan, feminin, kelembutan. Itu bisa mengalahkan kekerasan,” kata Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, kepada VIVA.co.id pada Kamis, 2 April 2015.
Lembaga swadaya masyarakat The Wahid Institute mengamati ada tren penurunan tingkat kekerasan terhadap perempuan di banyak bidang dari tahun ke tahun. Tetapi, penurunan itu tak otomatis menjadi pertanda akar permasalahan kekerasan selama ini mulai terselesaikan.
Sebab, kekerasan serupa masih cukup tinggi di daerah-daerah yang tak tersentuh publikasi media massa. Lembaga yang memiliki perhatian pada isu kesetaraan perempuan itu menilai sedikitnya ada tiga elemen dasar untuk mencegah kekerasan yang wajib dipertahankan.
Pertama, perempuan sebagai kepala rumah tangga dalam makna mengatur urusan domestik keluarga. Kedua, perempuan sebagai pengasuh dan pendidik anak, sehingga dia bisa menanamkan sifat-sifat kelembutan dan kasih sayang pada anak-anak. Ketiga, perempuan sebagai pengelola ekonomi kecil dalam keluarga.
“Kalau dia (perempuan) ditempatkan di tiga elemen itu, dia memang cocok jadi agen perdamaian karena dia memiliki posisi kunci,” kata Visna Vulkonik, Manajer Program The Wahid Institute.
Berdasarkan penelitian dan proses pendampingan yang dilakukan The Wahid Institute, kata Visna, perempuan yang memiliki posisi kunci dalam tiga hal dasar itu cenderung menjadi perempuan yang tangguh. Perempuan semacam itu juga mampu mengelola kebutuhan dasar keluarga dan terutama mendidik anak-anaknya dengan baik.
Visna mencontohkan beberapa kasus kekerasan atau konflik sosial, di antaranya, konflik di Poso, kasus Ahmadiyah di Bogor, konflik yang dipicu perbedaan aliran Sunni dengan Syiah di Madura. Sumber masalahnya ternyata adalah faktor ekonomi.
“Nah, ketika perempuan ini disandingkan dengan peningkatan ekonomi, dia punya peran penting mengelola keuangan keluarga,” katanya. (art)