- VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
VIVA.co.id - Ruangan seluas separuh lapangan bulu tangkis itu tampak meriah. Puluhan perempuan beragam usia berjejal, duduk berhimpitan.
Ibu-ibu ini sibuk bercerita dan bercengkrama. Sesekali, terdengar tawa renyah mereka, menimpali suara berisik kipas angin yang sudah renta dimakan usia.
Mereka duduk melingkar, beralaskan karpet dan spanduk yang sudah tak terpakai. Sebagian menyandarkan punggung di dinding, yang lain bersandar pada pagar yang berbatasan langsung dengan gang yang tak seberapa besar.
Bangunan itu terletak di Jalan Amal no 27, Rt 006/01, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Ini merupakan tempat belajar Sekolah Perempuan untuk Perdamaian.
Tak ada yang istimewa dari ‘ruang kelas’ ini. Hanya ada sejumlah kertas plano berisi sejumlah pedoman dan peraturan yang menempel di dinding. ‘Dilarang melakukan kekerasan fisik/psikis’ menjadi aturan dengan nomor urut satu di salah satu kertas plano tersebut.
Tepat pukul 14.15 sekolah dimulai. Rohimah (39) selaku koordinator membuka proses belajar mengajar dengan meminta para ibu-ibu untuk mengenalkan diri dan menyampaikan uneg-unegnya di depan forum.
Satu demi satu, para perempuan yang tak lagi muda ini mengenalkan diri dan mencurahkan perasaannya secara bergantian. “Hari ini kita akan belajar mengenal diri sendiri,” ujar Rohimah, Rabu, 1 April 2015.
“Materi ini penting, karena dengan mengenal diri sendiri kita bisa menghargai perbedaan dan keberagaman,” ujarnya menambahkan.
Suasana belajar mengajar di Sekolah Perempuan untuk Perdamaian di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Foto: VIVA.co.id/Ahmad Rizaluddin
Rohimah merupakan salah satu siswa Sekolah Perempuan untuk Perdamaian di Pondok Bambu ini. Ia sudah terlibat sejak sekolah ini didirikan sekitar tujuh tahun lalu.
Selain menjadi peserta didik, Rohimah juga merupakan salah satu pendiri sekolah yang diperuntukkan untuk para Kaum Hawa ini. Tujuh tahun lalu, Rohimah hanyalah tukang cuci yang minim pengetahuan, minder dan tak percaya diri.
Itu dulu. Saat ini, Rohimah merupakan salah satu warga Kelurahan Pondok Bambu yang diperhitungkan.
Berawal dari Keprihatinan
Difasilitasi lembaga The Asian Muslim Action Network (AMAN), sekolah ini fokus pada isu perdamaian dan resolusi konflik. Rohimah menuturkan, isu itu diambil karena warga di daerahnya sering terlibat konflik.