- Dokumentasi Pribadi
VIVA.co.id - Pria paruh baya itu tampak serius. Matanya tajam menatap layar proyektor. Sesekali, tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menjelaskan. Sejumlah orang terlihat khusyuk mendengarkan. Sebagian dari mereka bersedekap.
Sementara sisanya meletakkan tangannya di meja kayu yang memanjang. Nama pria ini Dono Prasetyo. Ia salah satu tenaga profesional di Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Siang itu, ia sedang memimpin rapat membahas rencana anggaran.
Tenaga profesional, demikian Dono menerangkan pekerjaannya saat ini. Ia mengaku sudah ngantor di badan yang menangani masalah TKI tersebut sejak awal tahun ini.
"Saya diajak Nusron," ujarnya singkat kepada VIVA.co.id, Selasa, 7 April 2015. Nusron yang ia maksud adalah Nusron Wahid, kepala BNP2TKI, koleganya di Kelompok Kerja Tim Transisi Joko Widodo–Jusuf Kalla.
Dono sebelumnya juga aktif di Seknas Jokowi. Di sini dia pegang posisi sebagai sekretaris jenderal. Ia bersama kawan-kawannya sesama aktivis ’80 an mendirikan Seknas Jokowi pada Desember 2013 lalu.
Lembaga ini sengaja dibentuk guna mendorong Joko Widodo (Jokowi) maju sebagai calon presiden pada Pemilihan Presiden 2014. Pasalnya, PDI Perjuangan, partai tempat Jokowi bernaung terkesan setengah hati mencalonkan Jokowi.
Berbagai kegiatan dilakukan untuk menyosialisasikan Jokowi. Seknas juga menggalang dukungan dari berbagai kalangan dan membuat organisasi serupa di berbagai kota. Tiap pekan mereka rutin ‘menjual’ Jokowi di arena car free day, Jakarta. Selain itu, mereka juga rutin menggelar diskusi dengan tema yang beragam.
Puncaknya, mereka menggelar simposium di Hotel Sultan pada 11 Maret 2014. Gelaran akbar yang mendatangkan berbagai pakar itu pun menghasilkan buku ‘Jalan Kemandirian Bangsa’. Buku ini diharapkan menjadi guidance bagi Jokowi jika menjadi presiden. "Simposium menyajikan 23 panel pakar dari berbagai bidang," ujar Dono mengenang.
Sejak aktif di Seknas, Dono nyaris tidak bekerja. Waktunya habis untuk kampanye dan menggalang dukungan bagi Jokowi. Ia bahkan menolak tawaran kerja dari salah satu lembaga donor internasional. Tawaran gaji yang menggiurkan tak mengubah niatnya dan memutar haluan. Akibatnya, ia dan istrinya sering bersitegang.