- iStockPhoto
Penduduk di wilayah selatan Norwegia masih dapat menikmati Matahari terbenam. Sementara itu, di utara silakan buka rekaman video saja, karena tidak akan mendapat pemandangan Matahari terbit dan terbenam.
"Pada dasarnya, saat ini tidak pernah benar-benar ada malam," kata Sakti. Untuk penentuan Imsak dan Maghrib, penduduk di selatan dapat mengikuti waktu setempat. Sementara itu, di utara ada beberapa pilihan.
Sebagian memilih untuk merujuk waktu puasa di Mekah, lainnya merujuk pada waktu di negara Muslim terdekat. "Ada penyesuaian untuk daerah ekstrem. Tidak mungkin juga kan puasa 23 jam 30 menit," ucap Sakti.
Selain di Norwegia, penyesuaian waktu puasa juga terjadi di Jerman. "Kesepakatan bersama juga. Ada yang mengikuti negara Muslim terdekat seperti Turki atau Arab Saudi," kata Luky.
"Ada yang bilang boleh, dari sebelum Matahari terbit. Ada juga yang ketat harus dari Subuh," ujarnya.
Luky hanya tertawa, ketika ditanya apakah dia memilih waktu puasa bervariasi setiap harinya.
Dia menanggapi kemungkinan itu dengan bergurau. "Boleh saja. Tapi, nanti gue dikecam orang se-Indonesia Raya, karena menentukan Imsaknya jam berapa. Tapi, bukannya agama itu semangatnya memudahkan umat?," tuturnya.
Makan Dirapel
Sisa waktu yang cukup singkat, antara saat berbuka dan sahur, membuat sebagian merapelnya. "Buka puasa normal, tapi sahurnya malas, jadi kadang-kadang dirapel saat buka puasa," ucap Luky.
"Sahur biasanya ditambah minum susu saja, biar kuat. Paling penting itu minum dan minum, karena udara di sini kering sekali. Orang Indonesia beruntung udaranya lembap, jadi tidak mudah dehidrasi," katanya.
WNI lainnya di Jerman, Prilly Anastasia Siregar, menyebut temperatur saat ini mencapai 39 derajat. "Terasa sekali beratnya, apalagi anak sudah libur musim panas, jadi harus mencarikan aktivitas," katanya.
"Sementara, beres-beres rumah juga tetap harus dilakukan, jadi lumayan lemas juga, sih," kata ibu satu orang putra berusia 7 tahun itu. Namun berbagai hal itu, tetap disebutnya tidak menjadi kendala.
Hanya dua hingga tiga hari pertama, ketika tubuh masih melakukan penyesuaian. Hari-hari berikutnya tubuh sudah terbiasa. "Lapar tidak terlalu, yang sulit sebenarnya menahan kantuk," ujarnya.
Selain pola makan, pola tidur adalah kendala yang berat. Apalagi, jam kerja dan sekolah di Jerman yang bukan negara Muslim, tidak ada penyesuaian seperti yang terjadi di Indonesia.
Bayangkan menunggu waktu berbuka puasa, sekitar pukul 10 malam, setelah aktivitas harian yang melelahkan. Prilly menyebut hal itu dirasakan oleh suaminya, yang tetap harus bekerja seperti biasa.