- iStockPhoto
Makanan Halal
Menurut Sakti, tidak ada kendala soal makanan, karena terdapat toko yang menjual makanan halal, sekalipun hanya ada sekitar 300 orang Muslim, dari total 500.000 penduduk di kota Stavanger.
Pada setiap kota di Norwegia, juga terdapat setidaknya satu masjid di setiap kota. Sementara itu, di Jerman, mencari makanan halal juga bukan persoalan, karena terdapat banyak toko Turki dan Arab.
"Daging halalnya dari Belanda atau Prancis, yang membolehkan rumah potong menyembelih hewan ternak secara Islami. Di Jerman aturan menyembelih ternak sangat ketat," kata Luky.
Penyembelihan ternak secara Islami disebut Luky bertentangan dengan aturan di Jerman. "Misal sapi dan ayamnya harus pingsan atau tidak sadar sebelum dipotong, supaya tidak merasakan sakit," tuturnya.
"Sementara itu, cara yang Islami kan, sapi dan ayamnya tidak boleh pingsan, harus dalam keadaan sadar. Kalau di Jerman caranya disetrum dulu sampai pingsan hewannya, tapi tidak sampai mati," ucapnya.
Sejauh ini, sudah atau pernah ada sekitar dua rumah potong Islami, yang dianggap memenuhi persyaratan di Jerman, dengan izin hasil pengecualian, karena adanya protes dari warga Muslim.
Namun, akhirnya produk mereka tidak laku, karena harganya yang mahal. "Cara Islami biayanya tinggi, seperti daging organik, jadi harga jualnya juga mahal. Serba salah," kata Luky, yang telah 11 tahun tinggal di Jerman.
Lalu, bagaimana dengan pandangan warga negara asing terhadap pendatang Muslim?
"Banyak gue dengar atau baca, orang Eropa tidak toleran pada orang asing, khususnya Muslim. Itu sama sekali tidak benar. Mereka sangat pengertian dan toleran," turut Luky, menceritakan pengalaman pribadinya.
Dia mencontohkan kebiasaannya makan siang bersama rekan kerja. "Saat makan siang, pasti mengajak, dong. Spontan gue bilang, maaf sebulan ini tidak bisa ikut dulu, karena sedang puasa. Reaksi mereka kaget, malah minta maaf," katanya.
"Hari berikutnya, mereka kalau mau makan atau minum bersembunyi. Gue bilang kalau mau makan atau minum di depan saya, tidak apa-apa. Tapi tetap saja, kalau ada yang ketahuan minum kopi, mereka minta maaf."
Luky juga menceritakan pengalamannya di rumah sakit. Khawatir mengganggu pasien lain, dia meminta izin bangun pagi untuk Salat Subuh pada perawat, serta pasien lain yang sekamar dengannya.
"Mereka bilang tidak apa-apa, malah besoknya kira-kira jam empat, perawat datang membangunkan, supaya gue Salat Subuh," ucapnya. Disebut Luky, hanya ada segelintir orang Jerman yang tidak toleran.
Mereka membenci orang asing, tidak khusus hanya Muslim. "Xenophobia. Mereka tergolong orang kanan dan ekstrem kanan. Tapi sedikit sekali, mereka langsung dilawan oleh orang-orang Jerman yang toleran."
"Demonstrasi pegida (kelompok anti-Islam) atau sejenisnya, hanya dihadiri 20 orang. Di Koln malah cuma 6 orang. Tapi yang demonstrasi anti-pegida ada ribuan orang. Jadi kelihatan, pembenci Muslim cuma sedikit."
Toleransi dan Godaan
Sakti mengatakan, di Norwegia yang mayoritas ateis, beda keyakinan tidak menjadi persoalan. "Pada dasarnya orang menghargai perbedaan, termasuk pandangan dan keyakinan," ujarnya.
"Di tempat kerja, banyak yang heran kok mau puasa, bisa bertahan dan bekerja seperti biasa. Lebih heran lagi, saat mereka tahu kalau minum pun tidak boleh," kata Sakti, yang harus bekerja antara pukul 08.00-16.00 setiap hari.
Toleransi di negara-negara Eropa memang berbeda dengan Indonesia, di mana restoran dan kedai makan biasanya diminta untuk tutup selama Ramadhan, demi menghormati mereka yang berpuasa.
Rumah makan tetap buka, orang-orang makan minum dengan bebasnya, jam kerja seperti biasa tanpa pengecualian pulang lebih cepat. "Tapi itu tidak mengganggu khusyuknya ibadah puasa," ucap Prilly.
"Madrid ini kota turis, jadi godaan bagi yang berpuasa sungguh besar juga. Restoran selalu terbuka," kata Kurniawan, diplomat Indonesia di Spanyol.
Kurniawan saat ini menjabat sebagai koordinator Fungsi Pensosbud Kedutaan Besar RI di Madrid.
Sementara itu, untuk toleransi, tidak ada persoalan di Madrid. Komunitas-komunitas Muslim tumbuh dan berjalan, baik itu komunitas Islam global maupun diaspora, seperti komunitas Islam Indonesia.
Makna Puasa
Meski baru pertama kali menjalani puasa di negeri orang, Kurniawan mengaku tidak ada keterkejutan dengan waktu puasa yang lama. Karena puasa itu dijalani bukan tanpa paksaan, namun penuh kesadaran sebagai ibadah yang memperkuat keimanan.
"Semua tidak berat karena terbiasa. Kembali juga ke niatnya. Kalau memang niat benar dan berserah diri, Insha Allah diberikan kemudahan. Seperti anak miskin yang niatnya benar sekolah untuk memperbaiki hidup," ucap Sakti.
Berpuasa di kampung halaman atau negeri orang, memiliki kelebihan masing-masing. "Di sini ibadah itu jadi hal yang pribadi sekali. Itu mungkin enaknya. Malah semangat dan penuh motivasi," kata Luky.
Di negeri lain yang non-Muslim, Ramadhan tidak menjadi saat istimewa, tidak ada perlakuan khusus. Namun, hal itu yang menurut Luky, membuatnya merasakan makna puasa sebagai ibadah.
Untuk mengobati rindu pada kampung halaman, komunitas bisa menjadi sedikit pelepas. Prilly mengatakan di Jerman ada komunitas Indo Muslim Bonn (IMB), yang menggelar silaturahmi sebulan sekali.
Tapi selama Ramadhan, mereka bertemu setiap pekan pada Sabtu. Mereka menggelar acara buka bersama, Salat Tarawih, bahkan sampai sahur, yang dimungkinkan karena singkatnya jeda waktu buka dan sahur. (art)